Namanya Rian. Seorang murid kelas 3 SMP yang biasa-biasa saja. Rian anak pertama dari dua bersaudara. adiknya yang kecil masih berumur 1 tahun dan masih menyusui. mamanya bernama Kirana, dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Sedangkan ayahnya seorang pemilik tour agent sekaligus sebagai tour guide sehingga beliau sering keluar kota.
Mamanya sangat cantik dan menarik meski usianya sudah 35 tahun. Dia sering berpakaian seadanya kalau di rumah. Setelah mandi dan mengeringkan tubuh, mama kadang juga tidak langsung mengenakan seluruh pakaiannya, namun hanya mengenakan celana dalam dan BH keluyuran di dalam rumah. Memang tidak lama-lama, biasanya dia begitu kalau ada keperluan yang membuatnya tidak sempat mengenakan pakaian, seperti urusin si kecil yang tiba-tiba rewel.
“Ah… mama memang sangat cantik” batinnya. Meskipun begitu Rian tetap tidak pernah berpikiran jorok terhadapnya, hanya mengagumi kecantikannya serta sifatnya yang baik dan penyayang.
Namun sepertinya tidak hanya Rian yang tertarik pada mama. Teman-temannya yang pernah datang ke rumahnya sering memuji dan berkata padanya betapa cantik dan seksinya ibu kandungnya ini. Rian tentu saja bangga mamanya banyak yang mengagumi, tapi kadang jengkel juga kalau ucapan mereka mulai aneh-aneh.
Sebentar lagi Rian akan ujian nasional. Dari beberapa ujian ujicoba Rian bersyukur selalu lulus meskipun dengan nilai pas-pasan. Rian harus belajar lebih giat agar nilainya makin bagus sehingga bisa masuk ke SMA negeri yang bagus. Meski sudah mau ujian nasional, teman-temannya masih sering bermain ke rumahnya, yang Rian rasa tujuan mereka hanya pengen ngecengin mamanya. Di antara mereka ada yang ngebet banget mencari perhatian mama, Ando namanya, temannya yang paling mesum dan yang paling kotor otaknya. Di kelas dia pemalas dan sering remedial kalau ulangan. Ando sendiri dianggap bos oleh rombongan geng yang Rian ikut-ikutan ini. Itu karena usia Ando yang sudah 17 tahun yang memang selayaknya sudah sma. Rian sering dimintai uang rokok oleh Ando, walaupun berat hati tapi terpaksa juga diberi oleh Rian.
“Gimana nilai ujian ujicobanya? Lulus kan?” tanya mama pada Ando.
“Duh… saya gak lulus tante” jawab Ando dengan nada murung.
“Lho… kok bisa gak lulus sih?”
“Habisnya Rian gak mau kasih contekan waktu ujian…”
“Kamu ini… Masa nyalahin anak tante sih? Salah kamu sendiri kan yang tidak belajar, tiru dong anak tante, rajin dia”
“Soalnya kalau di rumah gak bisa belajar tante”
“Lho… Kenapa?”
“Di rumah sempit tante, berisik, gak ada tempat untuk belajar,” jawabnya beralasan lagi-lagi dengan nada sok murung, padahal memang dia sendiri yang pemalas. Tapi rian lihat mama malah terpengaruh dengan ucapan Anto ini.
“Kamu itu harus belajar yang rajin dong… jangan sampai gak lulus nantinya… untung ini baru ujicoba” ujar mamanya perhatian. Mama orangnya memang tidak tegaan melihat orang kesusahan dan mengiba padanya. Mama sungguh wanita yang baik dan perhatian, sifat keibuannya begitu lembut dan disukai siapapun.
“Ya mau gimana lagi tante…”
“Hmm… Gimana kalau kamu ikut belajar bareng saja sama anak tante. Kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau untuk belajar. Kamu mau kan sayang bantuin Ando belajar?” tanya mama kemudian padanya.
“Eh, i-iya Ma… Gak masalah kok” jawabnya mengiyakan walaupun hatinya keberatan. Meskipun begitu Rian ambil saja sisi baiknya, karena sepertinya dengan membantu Ando belajar Rian yakin Ando justru akan semakin pandai dibuatnya.
“Anak mama ini memang baik. Sesama teman memang harus saling membantu…” ujar mama sambil membelai rambutku. Rian hanya nyengir.
“Ya sudah, tante tinggal dulu yah, tante mau masak makan malam. Mending sekarang kalian belajar. Ando, jangan ragu-ragu bertanya pada Rian kalau ada yang kamu gak ngerti” lanjut mamanya lagi sambil menuju dapur.
“Yuk Ndo kita belajar bareng” ajaknya pada Ando.
“Hehe, iya bro ”
Kami pun pergi ke kamarnya untuk belajar. Tapi dasar Ando yang emang pemalas, hanya sekitar 10 menit saja dia belajar, setelahnya hanya Rian sendiri yang sibuk dengan buku-buku, dia malah asik bermain dengan komputerku, bahkan browsing-browsing situs porno.
“Lo kok malah main komputer sih Ndo?” tanya Rian kesal padanya.
“Santai aja bro belajarnya, ntar otaklu meleduk lho… hehe” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Namun saat mamanya muncul untuk mengantarkan kue dan minuman, dengan cepat Ando malah ikut nimbrung bersama Rian pura-pura belajar.
“Wah, kalian belajarnya rajin banget, bagus deh… Nih ada kue dan minuman” ucap mamanya.
“Makasih Ma…”
“Makasih tante…”
Mama saat ini sudah berpakaian lebih santai, hanya mengenakan daster batik tipis tanpa lengan yang dalamnya hingga ke lututnya. Rian saja terpesona melihat penampilan mamanya, apalagi Ando, matanya tidak mau beranjak melihat tubuh ibu kandungnya ini, pandangan matanya seakan menelanjangi mamanya!
“Mama lo emang cakep banget bro… gak salah banyak yang demen, hehe” ucap Ando setelah mama keluar dari kamarnya. Rian hanya nyengir kecil saja. Antara bangga dan kesal ibu kandungnya dipuji seperti itu.
Rianpun lanjut belajar lagi, namun si Ando masih tetap belajar dengan malas-malasan. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputerku. Bodo ah, terserah dia mau belajar atau nggak.
Begitulah, sejak saat itu Ando jadi semakin sering main ke rumahnya, bahkan sampai nginap segala. Alasannya untuk belajar bareng, tapi lebih banyak bermain dan bersantai menikmati fasilitas rumahnya, serta mencuci mata melihat mamanya.
Ando juga sering cari muka ke mamanya pura-pura belajar. Bahkan dia mulai bertingkah manja dan ingin dianggap anak dari mamanya juga. Kalau ada papa, Ando masih sedikit menjaga kesopanan, tapi kalau papa sudah berangkat kerja, dia bakal melunjak tingkah sok manjanya.
Mama memang tidak mempermasalahkan tingkah Ando itu. Tapi sesekali Rian lihat mama risih juga kalau Ando terlalu melunjak meskipun mama masih membiarkannya. Contohnya saja ketika mama selesai mandi waktu itu. Ando seenaknya masuk ke kamar mama lalu seperti anak kecil minta dibikinin serapan, padahal mama masih menggunakan handuk. Tampak raut wajah mama yang kurang suka, tapi dia masih berusaha tetap tersenyum dan mengiyakan permintaan temannya itu.
Melihat hal itu Rian yang jadi kesal dibuatnya. Rian mengatakan ke mama kalau Rian kesal pada Ando dan menyuruh mama jangan terlalu berbaik hati pada temannya itu, tapi mama malah seakan membela Ando.
“Sayang… kalau sama teman itu harus baik-baik. Lagian Ando kan katanya kurang kasih sayang dari ibunya” jawab Mama. Rian tidak yakin ucapan Ando yang mengatakan ibunya tidak sayang dengannya itu benar apa tidak, Rian rasa itu hanya alasannya agar bisa menempel pada mamanya. Terpaksa Rian hanya diam menuruti meski hatinya dongkol. Kalau beneran teman yang baik sih emang Rian akan bersikap baik, tapi kalau temannya seperti Ando itu, ogah.
Tuh anak kerjaannya hanya nonton bokep dan bermain game saja. Tak jarang Rian mendapatinnya sedang asik onani. Biasanya dia melakukan onani setelah bermanja-manjaan dengan mamanya.
“Sorry bro, mama lo cakep banget, gak tahan gue, gue onani dulu yah sambil ngebayangin mama lo” ujarnya.
“Anjing lo Ndo, seenaknya aja kalau ngomong” Rian kesal sekali mendengar ucapannya itu. Sungguh kurang ajar mengatakan hal seperti itu pada mama di depanku. Tapi Ando hanya cengengesan saja Rian maki.
Memang tak Rian pungkiri mama sangat menarik. Wajahnya cantik, kulitnya putih mulus, tubuhnya juga indah. Tentunya akan menarik lelaki manapun. Siapa saja pasti akan bernafsu melihat ibu kandungnya. Apalagi oleh remaja-remaja tanggung seusia kami.
Rian hanya bisa memaklumi temannya yang satu ini karena pergaulan dan lingkungan tempat tinggalnya yang kacau. Rian hanya membiarkan saja ucapan Ando itu. Membiarkan temannya beronani ria membayangkan mama kandungnya.
Semakin lama, mama semakin terbiasa dengan tingkah sok manja Ando maupun perbuatan-perbuatannya yang kurang sopan sebagai orang yang bukan keluarga. Mama sudah tidak mempermasalahkannya lagi dan mencoba memaklumi kelakuannya yang kurang kasih sayang seorang ibu itu. Ando minta kancingkan baju, mama turuti. Minta cium selamat tidur, mama turuti. Sampai-sampai saat Ando minta disuapin, mamapun dengan senang hati menuruti.
“Ma…. Kok mama nyuapin Ando sih?” tanya Rian heran dan juga kesal saat melihatnya.
“Oh… ini permintaan Ando kemarin malam waktu kamu udah tidur. Dia ingin merasakan disuapin sama mama juga katanya” jawab mama santai.
“Iya bro… lo dulu kan udah pernah, gue kan kepengen juga, mama lo yang cantik kan mama gue juga sekarang, iya kan tante??” ucap Ando seenaknya. Tampak mama mencubit paha Ando karena ucapan temannya itu. Meski tidak keras, tapi Ando berlagak kesakitan, membuat mama jadi tertawa kecil.
Argh… Rasanya sungguh aneh melihat ibu kandungnya menyuapi orang lain, bahkan sampai bercanda akrab seperti itu, apalagi orang lain itu adalah temannya yang jelek dekil ini. Perasaanku campur aduk!
Rian yang tidak mau kalahpun mencoba mendekat, Rian juga ingin merasakan disuapi oleh mama lagi. Tapi Ando seakan tahu apa yang akan Rian lakukan. Diapun mendahuluinya minta mamanya segera menyuapinya lagi.
“Tante…. Aaaaakkkkk” ucap Ando sambil membuka mulut lebar-lebar.
“Kamu ini manja amat” ujar mama sambil menyuapi Ando. Ku lihat Ando melirik padanya dan berusaha cengengesan sambil menerima suapan dari ibu kandungnya. Brengsek!
“Ma…” panggilku.
“Ya sayang?”
“Rian mau juga dong…” pintRian.
“Hihihi… Emang kamu mau jadi anak kecil lagi? Katanya dulu gak mau disuapin mama lagi karena udah gede, hihi”
“Biarin Ma” ucapnya terpaksa ‘menelan ludah’ sendiri karena tidak mau kalah sama Ando yang jelas-jelas bukan anak mama.
Tampak mama seperti akan menuruti keinginannya, dia menghadap ke arahnya dan menyendoki nasi goreng itu. Tapi… lagi-lagi Ando mendahuluinya!
“Tanteeeeee…. Ando belum selesai makaaaaan” ujar Ando sok merajuk sambil menahan tangan mama. Membuat mama jadi batal menyuapinya dan balik menyuapi Ando lagi.
“Sayang… kamu makan sendiri aja dulu yah, mama kerepotan banget nih ngurusin temanmu” ujar mama. Terang saja Rian kecewa. Rian semakin kesal karena lagi-lagi Ando melirik cengengesan padanya sambil menerima suapan dari mama. Akhirnya Rian hanya makan sendiri sambil melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Makannya jadi tidak enak.
“Ando, gimana belajarnya? Kamu belajar yang rajin kan?” tanya mama kemudian setelah Ando selesai makan.
“Rajin kok tante, tanya aja Rian. Iya kan bro? Hehe”
“Iya… lo rajin banget” jawabnya malas. Rian tidak mau peduli lagi dia belajar atau tidak.
“Tuh kan tante… Ando rajin belajar, hehe”
“Kalau bisa jangan cuma rajin belajar di rumah tante aja dong. Di sekolah juga, terus dapatkan nilai yang bagus” ujar mamanya lagi.
“Ah, tante kok masih gak percaya aja sama Ando. Lihat aja deh besok, nilai ujian ujicoba berikutnya pasti bagus. Kalau nilainya bagus tante mau kasih apa ayo??” ujar Ando menantang.
“Duh, kamu ini kok malah minta imbalan sih?”
“Habisnya tante masih aja anggap Rian lebih pintar dari Ando” rajuk Ando. Jelas saja memang Rian yang lebih pintar dari dia! Enak aja dia ngomong lebih pintar darinya.
“Ya sudah, tante bakal kasih kamu hadiah kalau nilai ujian kamu lebih bagus dari nilainya anak tante. Nanti kamu boleh minta hadiah apapun pada tante. Oke?”
“Beneran boleh minta hadiah apapun tante?” tanya Ando bersemangat.
“Iya, kalau tante bisa kasih akan tante kasih” jawab mamanya.
“Oke deh tante, hehe”
“Kamu setuju kan sayang?” tanya mama kini padanya. Rian sebenarnya menolak ide ini, tapi tentu tidak mungkin kalau nilai ujiannya akan kalah bagus dari nilainya Ando. Jadi Rian terima saja.
“Kalau Rian menang, Rian boleh minta apapun juga kan Ma?” tanya Rian. Rian berencana meminta mama tidak membolehkan Ando main ke sini lagi.
“Iya boleh… Ya sudah, kalian belajar yang rajin yah… ” ujar mama sambil tersenyum manis pada kami. Mama terlihat sangat senang karena kami bersemangat belajar, tapi tentunya Rian dan Ando punya tujuan tersendiri. Rian yakin Ando akan meminta hal yang mesum pada mama, sedangkan Rian harus mencegah hal itu terjadi. Rian pikir Rian tidak akan kesulitan memenangkan pertandingan ini.
Beberapa hari berlalu, hari ujian ujicoba pun tiba. Rian dapat menjalani ujian dengan baik. Entahlah dengan Ando. Dia belajarpun tidak, kerjaannya hanya nonton bokep serta manja-manjaan sama mamanya kalau di rumah. Tentu saja Rian berpikir Rian akan mendapatkan nilai yang lebih bagus, tapi Rian tidak menyangka kalau nilai Ando lebih bagus darinya. Bagaimana bisa????
Akhirnya Andolah yang memenangkan pertandingan ini. Sialan!
“Hehe, Ando yang menang kan tante. Kan udah Ando bilang kalau Ando lebih pintar dari pada anak tante, hehe” ujar Ando sombong.
“Iya, deh, kamu mau hadiah apa emangnya?” tanya mama kemudian. Rian masih bingung bagaimana Ando bisa dapat nilai yang bagus. Tapi Rian tidak ada waktu untuk mencari tahunya, Rian lebih penasaran apa yang akan diminta Ando pada mama.
“Ngg… Rian mau dimandiin sama tante cantik, hehe”
Rian kaget setengah mati. Ando minta dimandiin sama mamanya! Berarti dia nanti akan telanjang di depan mama? Rian penasaran apa jawaban mama.
“Mau tante mandiin? Waduh… memangnya tidak ada permintaan lain yah?” tanya mama sepertinya keberatan. Tentu saja, karena yang meminta mandi padanya adalah pria tanggung seusia anak laki-lakinya, bukan keluarga pula. Tapi Rian lebih khawatir pada niat mesum Ando.
“Tapi Ando mau dimandiin sama tante… Ando kan udah belajar susah-susah tante demi minta dimandiin sama tante. Mau yah tante…” pinta Ando memelas.
Mama melirik padanya seakan meminta persetujuan darinya. Tentu saja Rian tidak rela. Mama tahu itu. Mamapun juga tau Rian ada rasa keberatan di hatinya karena sekarang manjanya Ando semakin melunjak sampai minta dimandikan. Tapi mama memang punya ikatan janji yang harus dipenuhi.
“Hmm… Ya sudah tante turutin. Tapi kamu aja yah yang telanjang, tante gak ikutan mandi. Nanti bukannya mandi kalau kita sama-sama telanjang, hihihi” kata mama tertawa kecil malah menggoda Ando. Rian sendiri sampai berpikir yang tidak-tidak dibuatnya.
“Oke deh tante, Ando aja yang telanjang, telanjang di depan tante, di depan wanita bersuami, mama dari temannya yang cantik” ucap Ando sambil melirik padanya, sengaja mengaduk-aduk hatinya dengan menggunakan kalimat-kalimat seperti itu. Tapi Rian lihat mama hanya tersenyum saja.
Rian masih tidak percaya mama mau memandikan temannya ini. Perasaannya campur aduk, deg-degkan membayangkan ibu kandungnya ini akan berduaan di kamar mandi bersama orang asing yang dekil item seperti temannya ini. Ando akan bertelanjang di hadapan mamanya untuk dimandikan. Rian cemburu dan kesal.
Rian lihat mama tersenyum padanya. Mama seperti mau mengatakan kalau tidak apa-apa dan tidak perlu khawatir. Semoga saja Ando tidak macam-macam selain hanya mandi.
“Sayang… mama mau mandikan temanmu dulu yah… tolong bantu lihat adikmu kalau dia nangis. Tolong jaga juga kalau tiba-tiba papa pulang” ucap mama kemudian.
“Eh, i-iya ma…” jawabnya yang lagi-lagi dibalas mama dengan tersenyum manis. Sedangkan Ando nyengir-nyengir.
“Yuk tante, mandi, hehe” ajak Ando menggandeng tangan mamanya. Tampak perbedaan warna kulit yang mencolok antara tangan Ando dan mamanya. Ando hitam dekil, sedangkan mama putih mulus.
“Iya, dasar kamu tidak sabaran. Kita pakai kamar mandi tante saja yah… Ada bathtubnya, jadi kamu bisa tante mandikan di sana nanti” kata mama.
“Oke tante, hehe… Bro, gue mandi dulu yah bro… dimandiin sama mama lo tersayang, hehe” ujar Ando cengengesan padanya. Rian betul-betul kesal melihat wajahnya.
Mama dan Ando lalu masuk ke dalam kamar Mama untuk menggunakan kamar mandi yang ada di sana, sedangkan Rian menunggu di ruang tengah. Setelah mereka masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, Rian masih sempat mendengar Ando yang terus saja menggoda dan memuji mamanya. Sesekali terdengar juga cekikikan mama karena godaan-godaan temannya itu. Mama juga berteriak-teriak kecil sambil tertawa. Ah… apa yang dilakukan Ando pada mamanya.
Tidak lama kemudian Rian mendengar suara air dari dalam kamar mandi, sepertinya mama sudah mulai memandikan Ando. Rian yang penasaranpun nekat masuk ke dalam kamar mama. Tampak baju, celana serta kolor Ando berserakan di atas tempat tidur orangtua Rian! Berarti Ando sudah telanjang sejak di kamar Mama! Kepala Rian jadi pusing dibuatnya.
Rian mencoba menguping pembicaraan di kamar mandi, tapi suara pancuran air dan ruangan yg kedap hanya terdengar sayup2 dari luar dan membuat Rian sungguh penasaran. Pasti saat ini penisnya sedang mengacung-ngacung di hadapan ibu kandungnya.
“Tante… mandiin Ando yang bersih yah, hehe” kata Ando.
“Iya… ini juga tante lagi mandiin kamu”
“Hehe, senang banget bisa dimandiin telanjang sama tante. Beruntung Ando berteman dengan anaknya tante. Bisa dimandiin sama mamanya yang super cantik dan nafsuin, hehe”
“Aduh tante, sakit… sakit” terdengar suara Ando kesakitan, sepertinya mama baru saja mencubitnya.
“Rasain tuh kamu”
“Hehehe, ampun, ngomong-ngomong kontol suami tante gede gak tan?”
“Kamu mau tante cubit lagi?”
“Eh, jangan tante, tapi jangan lupa ntar kontol Ando disabunin juga yah, hehe”
“Hmm… kalau itu kamu sendiri aja yah…” tolak mama halus.
“Yah, kok gitu sih, sekalian dong…”
“Kamu ini mau mandi atau apa sih Ndo?”
“Mandi dong tante… kan cuma nyabunin aja. Pasti tante geli yah sama kontol Rian yang gede. Mantab kan tante tegangnya? Lebih gede dari punyanya suami tante yah? Hehe” ujar Ando makin melunjak.
“Eh, kamu kenapa ngocok-ngocok gitu di depan tante? Kalau kamu nakal gini ntar gak selesai-selesai lho mandinya” ujar mama.
“Bagus dong, bisa berduaan terus sama tante, hehe”
“Duh, kamu ini. Ya sudah, tante bantu bersihin bagian itu” kata mamanya kemudian.
“Makasih tante, tante memang mama yang baik. Ando sayang sama tante”
Tak lama kemudian terdengar suara Ando seperti mendesah-desah kecil. Jelas kalau dia saat ini sedang disabuni penisnya oleh mama kandungnya. Entah bagaimana mama menyabuninya.
“Duh, burungmu hati-hati dong” teriak kecil mamanya. Rian penasaran apa yang terjadi, tapikarena suara yang samar-samar Rian hanya bisa menunggu mereka selesai.
“Iya mama temanku yang cantik, cuma kena dikit kok” jawab Ando. Apanya yang kena dikit???? Wajah tante kan!
“Hmm… Tante gak telanjang aja kamu udah tegang gitu, gimana kalau tante ikutan telanjang nih… hihihi” ujar mama menggoda Ando. Sepertinya mama sudah semakin rilex, dari yang tadinya menolak permintaan Ando, kini sudah bisa bercanda kembali menggoda teman anaknya.
“Hehehe, habisnya daster tante tipis sih… basah lagi. Jadi nyeplak gitu… tuh susu tante kelihatan. Tante seksi banget. Tante sengaja yah bikin Ando konak? Nih liat kontol Ando sampai keras gini, hehe” ujar Ando.
Ah… jantung Rian berdebar tak karuan mendengar sayup-sayup percakapan mereka.
Rian juga baru sadar kalau mama tidak pakai BH tadi, dan juga pakaian yang mama kenakan saat ini adalah salah satu dasternya yang paling tipis dan paling seksi. Ando berkali-kali coli sambil melihat mama dengan pakaian itu, sekarang pemandangan itu tersaji di depannya. Sungguh beruntung Ando bisa melihat mama temannya basah-basahan dengan daster tipis itu. Mama pasti sangat seksi saat ini.
“Kamu ini… Tante bilangin anak tante baru tahu rasa kamu”
“Emang bilangin apa? Bilang kalau Ando ngelihatin susu mamanya yang nyeplak? Terus ngejelasin kalau sekarang tante lagi usap-usap kantong zakar Ando? Tadi tante juga ngocokin batang penisku kan? Hehe” balas Ando cengengesan. Mama membersihkan penis Ando sampai mengocok-ngocoknya.
“Dasar ah, kamu. Nih kamu lanjutin sendiri bersihin burungmu”
“Bercanda kok tante… lanjutin lagi dong…” pinta Ando yang sepertinya ketakutan kalau mama marah. Mama sepertinya tidak benar-benar marah, karena terdengar Ando tak lama kemudian mendesah lagi. mama kembali membersihkan kemaluan temannya dengan tangannya!
“Untung tante masih pakai celana dalam. Kalau tidak pasti Ando udah muncrat. Bisa belepotan dong wajah dan daster tante kena pejuku” ucap Ando kemudian.
“Mau mu tuh. Kurang ajar dong namanya nyemprot wajah mama teman sendiri pakai sperma” balas mama.
“Aduh tante, sakit”
“Rasain”
Beberapa saat kemudian terdengar suara air kembali. Sepertinya mama lanjut membasuh badan Ando. Sepertinya acara mandi ini akan segera berakhir.
“Udah kan mandinya? Tante mau keluar dulu, kalau kamu mau buang sperma setelah ini silahkan. Tante tahu dari tadi kamu udah gak tahan” ujar mamanya.
“Hehe, iya tante, tau aja kalau ando konak banget dari tadi” ucap Ando yang semakin kehilangan rasa sopannya pada mamanya.
“Jangan lupa disiram yang bersih” ucap mama kemudian yang ternyata tiba-tiba sudah membuka pintu. Rian ketahuan sedang berada di dalam kamar!
“ Rian? Kamu ngapain di sini?” tanya mamanya.
“Eh, itu.. Rian mau pastiin mama gak diapa-apain”
“Iya… mama gak diapa-apain kok. Tapi memang temanmu itu nakal banget” kata mamanya sambil tersenyum manis.
Ku perhatikan kondisi mamanya. Memang benar susu mama nyeplak jelas dari dasternya yang tipis dan basah itu. Putingnya tampak sekali menerawang. Rambut, wajah dan seluruh tubuhnya basah kuyup. Sungguh pemandangan yang seksi dan memancing lelaki manapun untuk mengeluarkan sperma. Sungguh puas Ando melihatnya dari tadi.
“Hehe, ada Rian yah tante?” ucap Ando. Berbeda dengan sosok indah di depanku, di belakang mama, Rian lihat temannya yang jelek itu sibuk mengocok penisnya sambil berdiri tak jauh dari mamanya.
“Tante… Ando muncraaaat…” tiba-tiba dengan kurang ajarnya Ando muncrat hingga mengenai belakang tubuh mamanya! Pantat mama yang tertutup daster, pahanya, serta kaki mamanya kena telak dipejuin temannya ini. Sungguh kurang ajar! Hatinya perih melihat ibu kandungnya dipejuin orang seperti dia. Tapi mama justru berteriak manja.
“Kyaaaah, Andoooo! Spermamuuu!”
“Sorry tante, habisnya tante ngapain sih berdiri di situ, kena semprot deh, hehe” jawab Ando beralasan. Sungguh Ando biadab, dia seperti sengaja menunjukkan padanya pemandangan mamanya dipejuin olehnya. Rasanya ingin Rian hajar wajah buruknya itu, tapi tak jadi Rian lakukan karena tiba-tiba terdengar suara pagar bergeser. Papa pulang!
Ando dengan terbirit-birit mengenakan pakaiannya dan lari ke kamarnya. Mama juga kembali masuk ke kamar mandi pura-pura mandi. Sebelum menutup pintu mama sempat berbisik padanya,
“Jangan kasih tahu papa yah sayang”
Ah, hatinya diaduk-aduk. Rian tidak tahu apa yang Rian rasakan. Hatiku sakit karena cemburu, Bisa-bisanya mama diam-diam melakukan hal seperti ini di belakang suaminya. Meski awalnya keberatan, tapi mama kini terlihat menikmati permainan dari Ando.
Rian pikir hanya sekali itu Ando dimandikan oleh mama. Namun ternyata tiap ada kesempatan Ando selalu minta dimandiin sama mamanya. Memang kebanyakan Rian tidak melihatnya langsung, tapi diceritakan oleh mama ataupun Ando.
“Terus Ando onani lagi Ma setelah mandi?” tanya Rian pada mama.
“Iya, temanmu itu manja, tapi nakal juga yah… Mama jadi sering kena ceceran spermanya” jawab mama yang bikin Rian kesal.
“Kok mama kasih sih? Makanya dia minta terus…”
Mama tidak menjawab. Mama sepertinya juga bingung kenapa dia malah terus menuruti keinginan Ando walaupun awalnya dia selalu keberatan. Tujuan mama yang dulunya hanya ingin memanjakan Ando malah jadi seperti terseret ke permainan nakal temannya itu.
Perangai Ando semakin hari semakin melunjak sok manjanya. Setelah mandi, dia juga minta mama yang pakaikan dia baju, lalu minta disuapin. Sungguh eneg melihat tingkahnya itu. Rian sampai tidak pernah bisa bermanjaan lagi dengan ibu kandungnya sendiri karena Ando yang selalu menempel padanya.
Suatu hari papa tidak pulang karena urusan pekerjaan. Ando malah minta tidur bareng dengan mama di kamar mama.
“Boleh kan tante Ando tidur bareng?” tanya Ando memastikan.
“Duh, masa kamu tidur sama tante sih? Terus kamu ninggalin Rian sendirian dong di kamar?” balas mama.
“Biarin aja tante, gak apa kok. Iya kan Bro? Gak apa kan gue tidur seranjang sama mama kandung lo yang cakep? Hehe”
“Enak aja lo! Lo tidur di luar sana, kalau perlu lo balik ke rumah lo!” maki Rian padanya.
“Ah, berisik lo bro. Gue kan juga pengen ngerasain dikelonin dan tidur bareng sama seorang mama. Lo kan udah sering waktu kecil. Ya tante…. Boleh yah… please…. Kasihani Ando dong tante yang gak pernah disayangi mamanya dulu” ujar Ando memelas memasang wajah sedih.
Mama tampak berpikir, kemudian menghela nafas.
“Yah… mama pikir tidak apa kalau kamu ingin tidur bareng” ucap mama sambil mengusap kepala Ando. Lagi-lagi mama menuruti keinginan Ando.
“Rian juga mau tidur sama mama kalau gitu” pinta Rian tak mau kalah. Rian harus menjaga mama dari kelakuan temannya ini.
“Kamu mau tidur bareng juga?” tanya mama padanya.
“Iya Ma…”
“Ya sudah kalau gitu… muat kok kita tidur bertiga. Gak apa kan Ndo kalau Rian juga ikutan?”
“Ya gak apa sih, asal jangan ganggu aja, hehe” kata Ando cengengesan.
Setelah mama menyusui adiknya dan meletakkannya di ranjang bayi, kamipun pergi tidur. Mama berada di tengah-tengah diapit oleh Rian dan Ando. Malam ini mama terlihat sangat cantik dengan gaun tidurnya yang tipis dan diatas lutut itu. Rian yakin Ando jadi konak demikian. Melihat mama dengan pakaian itu saja sudah bikin konak, apalagi seranjang dengannya seperti yang kami lakukan sekarang. Pemandangan yang seharusnya hanya bisa dilihat Papa, kini juga dapat dilihat oleh teman tak diundangnya ini.
“Selamat tidur sayang…” ucap mama sambil mencium keningnya, begitu juga dengan kening Ando layaknya anaknya sendiri.
“Selamat tidur Ma…” balasnya. Tentunya Rian tidak ingin segera tidur, Rian harus memastikan kalau mamanya aman. Tapi ternyata rasa kantuknya cukup kuat dan membuat Rian tertidur juga.
Tengah malam, “Ayo dong tante… pengen nih.. mumpung anak tante udah tidur” kata Ando berbisik dengan nada memaksa.
“Duh, masa sekarang sih?”
“Pengennya sekarang tante, ayo dong… buka dikit dasternya, udah haus nih pengen nyusu, hehe”
Hah? Pengen nyusu?? Ando ingin menyusu pada mama??
“Kamu ini… kamu sengaja ya memintanya sekarang? Saat Rian ada di sebelah kita?” tanya mama yang hanya dibalas Ando cengengesan.
“Kan tante janji mau ngasih ando susu juga”
“Tapi kan susu tante yang udah diperas, bukan yang diminum langsung dari sumbernya”
“Lebih enak yang diminum langsung dari sumbernya, hehe”
“Hush… Suaramu itu pelanin. Nanti Rian bangun” ucap mama. “Ayo dong tante… mau yah?” pinta Ando lagi terus memaksa.
“Ya sudah, buruan nyusunya. Tapi jangan berisik” ucap mama kemudian membolehkan. Mama lalu menurunkan tali dasternya hingga memperlihatkan sepasang buah dadanya yang penuh susu itu. Susu yang pernah Rian hisap saat kecil kini juga akan dihisap oleh temannya yang jelek dekil ini. Dalam kegelapan, tampak Ando langsung menyosor buah dada mamanya. Mama sempat melenguh pelan karena Ando yang begitu semangat. Daripada dikatakan menyusu, Ando lebih seperti mencabuli ibu kandungnya ini. Tangan mama awalnya menahan tubuh Ando agar tidak menindihnya, tapi lama-kelamaan malah memeluk punggung Ando seakan tidak membiarkan Ando berhenti mencupangi buah dadanya.
“Nghhh… Ando sayang… pelan-pelan… jangan heboh gitu nyusunya” bisik mama pelan. Ando hanya menoleh sebentar pada mama, tampak susu mama mengalir di dagunya, Ando lalu kembali menyusu lagi dengan liar pada mamanya.
Cukup lama Ando melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan pada ibu teman sendiri. Lenguhan manja pelan dari mama terus terdengar yang membuat ando makin konak. Daster yang mama kenakan kini sudah turun hingga ke pinggangnya. Mama tidak mempermasalahkan lagi Ando yang semakin heboh menyusu padanya. Ia tampak pasrah kalau Rian benar-benar akan terbangun.
“Ando… jangan digigit-gigit… kamu mau nyusu atau apa sih? Sakit tahu”
“Jangan ditarik-tarik sayang… Nggghhhh….”
“Tanganmu kok malah nakal sih meras susu tante yang satunya?”
“Ngghhh.. Ando…. Kamu nakal sayang” terdengar suara mama berkali-kali merespon kelakuan Ando pada buah dadanya. Tapi mama tampak tidak benar-benar malarang Ando, masih terus membiarkan Ando melakukan aksinya. Setelah sekitar setengah jam, barulah Ando berhenti.
“Udah Ando? Kamu puas mainin susu tante? Mama temanmu lho ini.. Kalau ketahuan sama Rian bisa dihajar kamu, apalagi sama suami tante” ujar mama dengan nafas tersengal-sengal. Ando hanya cengengesan juga dengan nafas tersengal. Kehabisan nafas karena kelamaan membenamkan wajah buruknya dalam-dalam ke buah dada mamanya serta menyusu hingga kekenyangan.
Ando kemudian bangkit, lalu menarik daster mama hingga mama hanya mengenakan celana dalam.Rian terkejut dengan apa yang dilakukannya itu.
“Ando? Kamu mau apa lagi? Belum puas nyusunya?” tanya mama terkejut.
Ando tidak menjawab, dia lalu merebahkan diri lagi menghimpit tubuh mama yang nyaris telanjang itu. Dengan kurang ajarnya dia lalu menciumi bibir dan wajah mamanya bertubi-tubi dengan penuh nafsu.
“Ngghh.. Ando… kamu… jangan gini dong…” ucap mama menahan tubuh Ando.
Namun lama-kelamaan, mama malah membiarkan wajahnya terus diciumi temannya itu, bahkan membalas berciuman dengan Ando. Mereka jadi asik terus berciuman dengan panasnya, padahal ada Rian di sebelah. Mereka bertukar liur, berciuman, serta saling mengulum lidah. Mau-maunya mama menuruti permintaan nakal Ando. Merelakan tubuhnya digerayangi habis-habisan oleh temannya ini.
Puas berciuman, tiba-tiba Ando menarik celana dalam mama. Kali ini barulah mama benar-benar memprotes.
“Ando… cukup!” larang mama sambil bangkit duduk, lalu melihat Rian untuk memastikan Rian masih tertidur. “Tante… Ando pengen” pinta Ando sambil merebahkan tubuh mama lagi, tapi mama menahan tubuhnya dan kembali duduk.
“Gak boleh Ando sayang… jangan yah… Masa kamu mau menyetubuhi mama temanmu sendiri?”
“Habisnya Ando nafsu banget sama tante…pengen Ando entotin” ucap Ando vulgar.
“Kamu sih nyusunya lama banget tadi. Anak seusiamu itu gak boleh nyusu lagi seharusnya. Jadi nafsu kan sekarang… Mendingan sekarang kamu onani deh di kamar mandi, turunin nafsumu” suruh mama.
“Yah tante, masa coli lagi… kali ini aja tante… please… boleh ya…” ucap Ando kembali berusaha merebahkan tubuh mama. Mama membiarkan, tapi di wajahnya masih terlihat keraguan. Tak lama kemudian dia kembali mendorong tubuh Ando dan kembali bangkit duduk.
“Jangan Ando sayang… gak pantas kita melakukan ini” pinta mama masih mencoba mempertahankan diri.
“Yah… tante… pengen”
Mama tampak bingung, tapi kemudian dia berkata, “kamu peluk dan ciumin tante sepuasmu saja ya… jangan lebih dari itu” tawar mama kemudian.
“Ya sudah deh…” jawab Ando. Mama tidak melawan saat Ando kembali merebahkan tubuhnya. Sepertinya mama membiarkannya agar ini cepat selesai. Mungkin merasa tak masalah kalau hanya peluk dan cium.
“Jangan ribut yah tapi…” ingat mamanya.
“Iya tante…”
“Ya sudah… ayo sini… Cium dan peluk tante sepuasmu. Penismu sepertinya tak tahan untuk menikmati tubuh mama temanmu ini” ucap mama sambil tersenyum manis. Sengaja menggunakan kata-kata ‘mama temanmu’ seakan menyenangkan Ando.
Merekapun kembali bergumul telanjang bulat tanpa bersetubuh di sebelah Rian. Lenguhan kenikmatan mereka kembali terdengar sahut-menyahut. Kadang Ando membuat gerakan seperti menyetubuhi mama walaupun penisnya hanya menggesek di paha mama. Begitu panas. Baik Ando maupun mama tampak sangat menikmati. Seakan lupa kalau Rian masih ada di sini.
Cukup lama mereka melakukannya. Tubuh mereka sama-sama sudah mengkilap karena berkeringat meskipun AC di kamar menyala.
Hingga kemudian dikejutkan oleh teriakan kecil mama.
“Ando jangan dimasukkan!”
“Gak tahan tante….”
“Ando… udah tante bilangin kan.. Ngh… Ando… keluarkan burungmu sayang!” kata mama lagi. Apa yang terjadi. Ando sedang menyetubuhi mama temannya!
“Ngghhh.. tante… enak.. ngentot… Ando ngentotin tante Kirana… akhirnya…” racau Ando tak mempedulikan ucapan mama.
“Shhh… Ando… cukup… nanti Rian bangun.. Ngghh..” ucap mama.
“Kalau tante gak mau anak tante yang dungu itu bangun, tante jangan berisik dong… hehe” balas Ando.
“Kamu ini… dasar kurang ajar menyetubuhi mama teman sendiri” ucap mama yang akhirnya menuruti perkataan Ando. Mama tidak lagi melawan dengan harapan Rian tidak terbangun dan menyaksikan dirinya sedang bersetubuh dengan temannya sedang bersetubuh dengan temannya sendiri. Akhirnya mama membiarkan tubuhnya dinikmati Ando, bahkan mama juga terlihat menikmatinya. Terdengar mama berkali-kali mendesah kenikmatan sambil memeluk tubuh Ando.
Mama melakukan perzinahan dengan remaja tanggung yang jelek, di samping diri anaknya, di atas ranjang suaminya.!
“Ngghh… Ando…”
“Tante…”
“Sayang… mamamu sedang disetubuhi temanmu… tolongin mama dong…. Kok kamu malah enak-enakan tidur sih? Suka yah kalau mama dientotin orang lain?” racau mama yang membuat Ando semakin semangat.
Sungguh Rian tak tertolong.
Ando terus menyetubuhi ibu kandung temannya. Cukup lama hingga membuat mama kilmaks berkali-kali.
“Tante… ando keluar. Keluarin di dalam yah?”
“Nggh… jangaaaann!”
“Tante…. Terima benihkuuuuu… Ah… mama temanku lonteeeee” erang Ando dengan tubuh mengejang-ngejang menyemprotkan spermanya ke vagina mama. Tempat Rian lahir dulu kini dikotori oleh peju temannya!
“Dasar… anak sekarang cepat gede semua”
“Rawat anak Ando yah tante… hehe” ucap Ando cengengesan.
“Tante gak mau hamil anak kamu” balas mama.
“Tapi kalau hamil gimana?”
“Ya mudah-mudahan anaknya nanti gak mirip kamu, tapi mirip tante, hihihi” ucap mama yang malah menjawab pertanyaan Ando dengan candaan.
“Hehe, yang penting Ando senang bisa bantu Rian punya adek lagi”
“Dasar, mana mau Rian punya adek dari benihmu. Tapi Rian bisa-bisanya yah tidur nyenyak, padahal mamanya sedang disetubuhi temannya” ucap mama sambil melirik ke arahnya, “Dia kan goblok dan budeg tante… Mamanya Rian entotin aja gak dengar. Huahahaha” ledek Ando.
“Hush… jangan keras-keras ngomongnya. Nanti dia beneran bangun. Tante gak mau kalian berantem”
“Hehe, tapi Ando boleh kan ngentot lagi?” tanya Ando.
“Ngentotin siapa?” balas mama balik nanya.
“Ngentotin mama temanku yang cantik dan seksi, hehe”
“Huh! Dasar”
Mereka lanjut ke ronde berikutnya. Rian tak mendengar, tak melihat dan hanya tidur dengan ditemani desahan-desahan pelan mereka.
Esoknya mereka bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, terutama mama.
Waktu terus berlalu. Saat ini papa sedang pergi keluar kota karena pekerjaannya. Baru pulang 3 minggu lagi. Hanya ada Rian, adiknya, mama, serta…. Ando di rumahnya. Ando seakan-akan telah menjadi bagian dari keluarga Rian.
Tiap ada kesempatan, mamanya dan Ando pasti akan mengulangi perzinahan itu lagi diam-diam dibelakang Rian dan papa. Tak ada yang terlihat oleh Rian, tapi sepertinya Rian memang tidak melihat ada ceceran sperma dan susu mama yang menjadi bukti kalau mereka baru saja bersetubuh. Mama sepertinya telah benar-benar jatuh ke genggaman Ando sejak dia merasakan kenikmatan genjotan penis Ando pada vaginanya. Mama ketagihan dengan penis temannya.
Hari ujian nasionalpun tiba. Rian pikir dia akan dapat menjalani ujian ini dengan lancar, tapi pikirannya benar-benar telah kacau dibuatnya.
“Bro… lo aja yah yang ujian, gue mau di rumah aja” ucap Ando pagi itu di hari ujian.
“Emang lo gak ujian? Gila lo!” balasnya.
Tak lama, mama pun muncul dari belakang.
“Sayang… kamu mau ujian kan sekarang? Sukses yah…” ucap mama padanya.
“I-iya Ma…”
“Rian pergi''ujarnya lalu dia berangkat sendiri ke sekolah.
Mama tersenyum padanya, lalu dia mendekatkan wajahnya pada Ando, mereka lalu berciuman!
“Tante, ngentot lagi yuk… gak tahan nih… hehe” ajak Ando mesum. Mama tersenyum.
Makan tuh ujian! Biarin deh gue gak lulus-lulus asal bisa ngentot terus sama nyokap lo. Entotin mama lo sampai lo punya adek baru lagi, huahahaha” ujar Ando tertawa seakan berbicara ke Rian.
Mama lalu menarik tangan Ando ke dalam kamar Rian. Sebelum masuk, mama masih sempat tersenyum ke arahnya, sedangkan Ando cengengesan padanya.
Di atas ranjang Rian, tampak mamanya sedang disetubuhi Ando dari belakang, kebaya masih menempel pada tubuh mama.
Ando senyum padanya yang diikuti mama dengan tersenyum manis padanya, lalu berciuman kembali
Mereka betul-betul melakukan persetubuhan yang panas. Seorang wanita bersuami sedang bersetubuh dengan remaja tanggung yang tak lain adalah temannya. Tubuh dewasa mamanya dinikmati dengan sepuas hati oleh remaja jelek ini. Erangan dan desahan tak henti-hentinya terucap dari bibir mereka. Sesekali mama malah melirik dan tersenyum padanya sambil dia dientotin, membuat perasaannya makin tak karuan dibuatnya.
Yang tadinya mama berkebaya lengkap, kini telah telanjang bulat dengan rambut panjang terurai acak-acakan. Tubuh mereka mengkilap karena banjir keringat. Mama terlihat sangat seksi dan nafsuin.
“Tante… Ando pengen keluar” ucap Ando tiba-tiba mengeluarkan penisnya, dia lalu berbisik pada mama. Mama hanya tersenyum mendengar bisikan Ando. Entah apa yang Ando ucapkan,
Ando lalu bangkit berdiri di atas tempat tidur, sedangkan Mama duduk bersimpuh di depannya, tepat di hadapan penis Ando.
“Sayang… kamu mau pejuin wajah mama di hadapan kamu. Mama pengen lihat sayang” ucap mama padanya. Ah… tubuh Ando lemas .
“Liatin yah sayang… jangan berkedip” ujar mama dengan senyuman nakal.
Tak lama kemudian Ando mengerang kencang. Tangan kanannya menahan kepala mama dan menghadapkan wajah mama ke arahnya berdiri, sambil tangan kirinya terus mengocok penisnya.
“Ah…. Kiranaaaaa. Gue pejuin muka lo di ranjang anak kandung loooooo”
“Croooooootttt croooooooot”
Sperma Ando muncrat-muncrat menghantam wajah cantik mamanya bertubi-tubi. Sangat banyak, kental dan lama sekali. Ando menyaksikan tiap detik bagaimana pejunya itu mendarat di kening, pipi, mulut, dagu, serta seluruh permukaan wajah mama. mama dikotori dihadapannya.
“Ugh… enak banget ngecrot di wajah mama lo broo… huahahaha” tawa Ando barharap Rian mendengarnya.
Mama juga melirik sambil tersenyum padanya. Seakan ingin menunjukkan betapa banyaknya sperma teman anaknya itu mendarat di wajah cantiknya. Seakan ingin mengatakan ke Rian betapa bejatnya temanmu itu sampai mengotori wajah ibumu dengan sperma.
“Kamu suka sayang? Jangan kasih tahu Rian teman kamu yah… Tadi kamu muncrat juga kan di lantai? Jangan lupa yah bersihin…” ucap mama cekikikan nakal padanya.
Mama yang tersayang, mamanya yang cantik dan baik, kini telah menjadi milik Ando. Mengkhianati Papa.
“Tante, besok boleh nggak Ando ke sini?” tanya Ando.
“Kamu mau ke sini?”
“Iya, tante… Ando pengen ujian juga sama tante, hehe”
“Hihihi, ujian apa sih… ada-ada aja kamu. Hmm… Iya deh, Boleh kok…”
“Oke deh tante… Ando bakal ke sini besok, ujian sama tante. Tapi tante siap membesarkan hasil ujian kita ya” ucap Ando cengengesan.
“Iya… u-ji-an khusus untuk kamu dan ujiannya setiap tahun ya, buat Rian jadi abang untuk hasil ujian-ujian kamu ” jawab mama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar