kisah toge dan telur
Minggu, 22 Februari 2026
Asisten papa
Senin, 22 Juli 2024
Dilema (Mama)
Kamis, 14 Juli 2022
Vagina Rapet Tetanggaku
Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.
Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.
Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu.
“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh… ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.
Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara Bu Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu tadi istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.
Pada suatu hari aku mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi.
“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.
“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tadi.
“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.
“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.
“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.
“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tadi.
“Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo”, kataku menggodanya.
“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu tadi harus aku dapatkan.
“Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.
“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.
“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.
“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi penasaran.
“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.
“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”
“Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.
“Awaas! hati-hati!” Bu Tadi menjerit kaget.
“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.
“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.
Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Tadi, aku Budi,” kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Budi,” kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Tadi. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.
“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.
“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen,” bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.
Kaki Bu Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus,” bisik Bu Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus,” Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.
Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.
Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.
Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.
Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.
Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tadi, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.
Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”
“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.
“Emangnya Pak Tadi nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.
Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.
Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tadi sudah padam dari tadi. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tadi. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.
“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
“Pak Tadi sedang kemana sih maa”, tanyaku.
“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.
“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Tadi memandangku.
“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.
“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.
“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.
“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”
“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.
“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.
Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tadi dengan penisku. Bu Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Tadi
“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,
“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa… ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tadi. Bu Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.
Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam.
Rumput Tetanga Memang Lebih Hijau
Seperti biasanya aku bangun pagi, namun hari itu aku sama sekali tidak bersemangat untuk bekerja. Pagi itu badanku terasa sangat pegal sekali, maklum saja aku bekerja sebagaikuli angkut dipelabuhan. Jadi aku bebas dan tidak terikat oleh perusahaan karena aku mendapat uang langsung dari orang yg membutuhkan tenagaku untuk mengangkut barang masuk kedalam kapal.
Pagiku itu aku pergi kewarung sebelah untuk membeli mie instant dan telur buat sarapan pagiku. Setelah membeli mie instant dan telur aku langsung pulang kerumah, namun sebelum memasak mie aku masuk kekamar untuk mengecas HP bututku yg kemarin belum sempat aku cas. Setelah kucolok kan pengecas ke HP bututku aku langsung kedapur untuk memasak mie.
Namun sial sekali, ternyata gas elpiji 3 kg ku habis. Mau beli kewarung namun sisa uang didalam dompetku hanya pas buat beli rokok sebungkus.
Waduh sialan, apes bener dah gue.. mana gas abis eh duit tinggal 10 ribu didompet.. Nasib bener dah gumamku dalam hati.
Untung saja aku melihat disamping rumahku ada istri tetanggaku yg sedang memasak, aku nekat minta tumpangan masak mie walau harus menanggung malu. Biasanya juga mereka bila ada perlu mereka pun sering meminta pertolonganku, dan mereka juga maklum dengan kehidupanku yg sebatang kara yg pekerjaannya tidak tetap yg tinggal disebuah pondok beratap daun.
Sudah genap 15 tahun aku ditinggal keluargaku, namun aku hanya bisa tetap tabah menjalani kehidupanku yg miskin, sedikit demi sedikit aku meraih penghasilan agar kehidupanku terus berjalan.
Tin, aku boleh gak numpang masak mie? Soalnya gas elpiji ku habis, mau beli lagi gak punya uang kataku kepada istri tetanggaku yg bernama Titin yg baru saja menikah dan belum genap setahun usia pernikahan mereka. Dan belum punya anak.
Ya boleh dong bang, tapi tunggu aku selesai ya, dikit lagi. Soalnya suami saya udah nunggu didalem mau berangkat kerja kata Titin
Oke.. kalo udah kasi tau ya, aku mau mandi dulu kataku meninggalkannya an pulang kerumahku.
Aku pun pergi kekamar mandi yg kumuh milikku dan aku langsung mandi didalamnya. Selesai mandi terdengar suara titin yg memanggilku pertanda ia sudah selesai memasak untuk suaminya. Setelah selesai berpakaian aku langsung pergi kedapur tetanggaku yg bersebelahan dengan dapurku.
Udah ya Tin masaknya? kataku
Udah bang, silahkan pake kompornya kata Titin
Tin, suamimu udah berangkat belum? tanyaku
Udah, barusan berangkat tuh bang katanya
Yah, telat aku, soalnya aku ada yg mau di omongkan dengan dia. Mau nanya kedia apa jadi atau gak berangkat kesumatera? kataku sambil memasak mie
Ya jadi tuh bang, tapi katanya aku disuruh jangan ikut. Soalnya kata dia gak lama. Cuma seminggu aja. Abang mau ikut ya? tanya Titin
Belum tau Tin, soalnya aku gak punya uang buat ongkos kataku
Nah, emangnya ada urusan apa sama suami saya? tanya Titin
Gak.. Cuma mau pinjem uang buat pergi kekampung, soalnya ini udah musim buah… aku mau beli buahnya langsung dari pohon terus aku mau jual kesini, ya ambil untung dikit aja lah kataku
Kalo gitu kekampung ku aja, disana juga lagi panen buah. Dikebun ayah Titin lagi panen durian, kalo mau ikut sama Titin aja pulang kekampung. Ntar ongkos jangan dipikirin. Abang gak perlu keluar modal, modal dari Titin dan abang yg tukang jual buahnya. Ntar untungnya kita bagi dua kata Titin
Ntar suami kamu gimana? Udah tau? kataku
Suami Titin ntar dikasi tau. Lagian dia juga suruh nyari orang buat jual buah hasil panen kebun ayah Titin katanya
Ya oke lah kalo gitu, ntar kalo mau pulang kampung kasi tau aja sama abang, mienya udah masak, abang makan dulu ya Tin. Makasih udah mau kasi tumpangan kompornya kataku
Ya udah, Titin juga mau mandi. Ntar Titin kasi tau kalo mau pulang sama abang katanya
Akupun langsung pulang dengan membawa semangkuk mie yg sudah kumasak tadi. Didapur langsung saja aku santap habis Mie ku dan selesai makan aku masuk kekamar dan membereskan kamarku dan menjalar sampai seisi rumah. Hari itu aku habiskan dengan beres-beres rumah, karena sudah lama sekali aku tidak membereskannya.
Beberapa hari kemudian Titin memanggilku…
Bang Jay, kesini bentar katanya dari jauh memanggilku didapur
Ya tunggu bentar kataku langsung menghampirinya
Ya ada apa Tin? kataku setelah sampai padanya
Bang, suami Titin udah kasi izin, kita berangkat setelah suami Titin berangkat katanya
Ya bagus lah, abang udah gak sabar neh, soalnya abang juga lagi perlu uang kataku
Buat apa bang? tanyanya
Ya buat bayar hutang dan keperluan sehari-hari, udah beberapa hari ini abang gak kerja kataku
Kalo gitu pake aja uang Titin dulu, nih ambil katanya sambil memberiku uang seratus ribu rupiah
Makasih Tin, ntar abang pasti ganti kataku
Ya udah bang, yg sabar aja… Oh ya, boleh minta tolong gak? Soalnya suami Titin udah pergi kerja. Titin gak kuat angkut air buat cuci pakaian katanya
Oh itu gampang Tin, mau berapa ember? tanyaku
Ya secukupnya aja lah bang, tuh ada ember, penuhin aja tong yg kosong itu. Titin mau ambil pakaian kotor dulu didalam katanya
Oke.. kataku sambil mengambil dua buah ember dan langsung pergi kesumur
Beberapa menit kemudian, Tong yg kosong itu sudah penuh semua terisi dengan air yg aku ambil disumur. Aku memperhatikan Titin yg sedang asyik menyikat baju, dan yg membuatku tidak mau pergi adalah saat aku melihat Titin yg sedang menyikat baju dengan posisi duduk mengangkang, Titin yg memakai Daster putih tipis yg hanya sebatas paha panjangnya dan sedikit basah dengan air sehingga tampak dimataku Titin tidak memakai BH dan memakai celana dalam putih.
Aku terkesima dengan pemandangan itu, namun Titin tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Kontan saja penisku berdiri tegak dan terasa sesak sekali di dalam celana jeans ku. Ingin sekali aku mendekap tubuhnya dalam pelukanku namun ia istri orang, aku harus bisa menahan rasa yg bergejolak ini, walau memang sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya tubuh wanita aku harus bisa menahan nafsuku.
Tin.. abang pulang dulu ya, udah penuh semua kan? kataku
Oh ya bang, makasih banyak ya katanya
Aku pun langsung pulang kerumahku, namun timbul pikiran isengku. Letak posisi duduk Titin berada tepat didepan lubang kecil dirumahku, langsung saja aku menuju kesana dan mengintip Titin yg sedang asyik mencuci pakaian dan tak pernah aku sadari hal ini.
Tampak jelas sekali selangkangannya yg masih tertutup celana dalamnya. Tak lama berselang, aku melihat Titin berdiri dan melepaskan celana dalamnya dan kemudian langsung dicuci nya sambil kembali duduk seperti semula. Aku semakin tidak tahan, akupun melepas celana ku dan ku keluarkan batang penisku yg semakin sesak bila tidak dikeluarkan.
Aaahhh yessss… aaaahhhhh desahku sambil mengocok penisku
Lama sekali aku mengintip Titin yg tidak bergerak dari posisi duduknya, memang cuciannya banyak sekali. Dan tidak terasa aku mencapai klimaks, aku semprotkan spermaku ke dinding sambil mengerang…
OOOhhhhhh yesssss aaaaahhhhhh desahku
Crrooottt… crrroootttt… croooottttt
Kumasukkan lagi penisku kedalam celana dan aku langsung menuju kekamar dan berbaring disana. Aku masih terus mengkhayal kan tubuh Titin, andai saja aku punya kamera barangkali sudah aku abadikan momen tsb. Rasa yg menggebu-gebu itu terus melandaku, seandainya ia sudah janda aku pasti berani mendekatinya.
Bang… Lagi ngapain? Kok itunya dibuka kata Titin yg memergokiku yg sedang berbaring dikamar yg tak kusadari penisku sedang berdiri tegak keluar dari dalam retsleting celanaku
Kontan saja aku dengan cepat berbalik badan untuk membetulkan posisi penisku dan kumasukkan lagi kedalam celanaku.
Astaga… kenapa bisa masuk kataku dalam hati
Bang… tolongin sekali lagi.. bak air kamar mandi Titin kosong, Titin mau mandi gak ada air kata Titin sambil mendekatiku dan duduk dibelakangku dikasur.
Aku membalikkan badanku dan kebetulan pas sekali wajahku menghadap payudara Titin yg tertutup daster. Aku sempat terdiam..
Titin tadi dengar suara abang waktu nyuci, Titin tau abang tadi ngintip Titin, ngaku aja katanya sambil mengusap wajahku
Eeehh… gaakk… kamu kenapa masuk kesini? Yaa.. udah, tungguin diluar abang ambilin airnya
Nanti aja… Titin masih mau disini katanya
Jangan… kamu ntar tetangga yg lain pada tau… kamu cepet keluar kataku
Titin pun beranjak dari ranjangku, namun ia tidak keluar malah ia mengunci pintu kamarku. Ia pun melepaskan dasternya dan terpampanglah semua tubuh Titin yg sudah tidak ada penutup lagi. Kedua payudaranya aku melihat sangat padat sekali dan aku lihat putingnya berwarna cokelat muda. Kemudian ia mendekatiku dan meraih retsleting celanaku dan dibukanya.
Sungguh aku tak berdaya diperlakukan seperti itu, lalu ia berdiri dan membisikkan ketelingaku…
Titin mau bang, bisa kan kasi Titin kehangatan? Udah lama Titin gak disentuh suami Titin katanya
Taa.. ta.. pi.. oohhh yeeaaahhhh desahku saat Titin mengulum penisku
Dengan lembut ia memperlakukan penisku, hingga buah zakarku pun dijilatnya, entah keberuntungan apa yg aku dapatkan hari ini sehingga orang yg baru saja aku khayalkan itu tiba-tiba datang masuk kekamarku..
Tak lama kemudian aku menahan kepalanya memberinya tanda bahwa menyuruhnya berhenti. Aku menarik tubuh Titin dan mendorongnya kekasur sehingga ia menjadi terlentang dikasur. Aku buka kedua kakinya dan pahanya dan langsung saja aku jilat kemaluannya. Kumasukkan jari tengahku kedalam lubang kemaluannya dan aku jilat klitorisnya dengan lidahku.
Aaawww… aaahhh Geeellliiii bang katanya
Lima menit aku memainkan lidahku menjilat kemaluannya, dan cairan nikmat Titin pun meleleh keluar dan langsung saja aku lumat. Aku pun berdiri dan memegang batang penisku dan ku lihat sudah memberikan lampu hijau dengan mengangkangkan kedua kakinya. Pelan tapi pasti dan ku hujamkan penisku masuk kedalam kemaluannya.
Arrghhh aaahhhh erangnya
Sungguh nikmat kemaluan Titin, sejenak aku diamkan dan terasa sekali berdenyut dikepala penisku seakan seperti di pijat dari dalam. Akupun menggoyangkan pantatku maju mundur menusuk kemaluan Titin, belum seberapa aku merasakan hangat sekali dikepala penisku seakan disembur cairan hangat. Ternyata Titin sedang orgasme.
Aaaarrghhh aaahhhh bang… aaahhhh desahnya menggelinjang hebat
Aku berhenti sejenak membiarkan Titin menikmati orgasmenya, setelah Titin tenang aku melanjutkan goyangan pantatku. Semula yg terasa lambat kini aku percepat, beberapa menit kemudian Titin mencengkram tanganku dan aku merasakan hangat lagi di kepala penisku. Titin orgasme kedua kalinya.
Arrrggghhhhh yeeeeaaaahhhhh bang… desahnya
Penisku semakin basah, aku merasakan sangat licin. Akupun mencabut penisku dan aku lap dengan celana dalamku penisku dan aku juga lap kemaluan Titin yg sudah banjir sampai kering. Setelah kering aku belum memasukkan penisku lagi kedalam kemaluan Titin, aku menyempatkan diri menyusui payudara Titin dan aku sedot putingnya.
Arrgghh bang, udah… sakit bang katanya
Akupun menghujamkan lagi kepala penisku dan masuk seluruhnya dan langsung saja aku goyang sekuat tenaga karena aku sudah tidak tahan, semakin cepat dan semakin keras suara Titin mengerang, sambil menggoyangkan pantat aku menutup mulut Titin agar suaranya tidak keluar.
Ssstt… diam Tin, ntar ada yg denger kataku
Akupun melanjutkan gerakkan ku memompa rahim Titin, perpaduan bunyi sentuhan pahaku dengan paha Titin menjadi sebuah irama dan akupun akhirnya mencapai klimaks kedua dan langsung saja aku menyemprotkan spermaku dirahimnya supaya ia bisa hamil dan dibalasnya dengan semprotan didalam kemaluannya..
Aaaaarrggghhhh… Tin… oohhhh yeeessss aaaahhhhhhh desahku
Hmmmbbbbb… aaaarrrggghhhhh aaaaahhhhh aahhhh aaaaaaahhhh desah titin
Crrroooottt… Crrottt… Crrroootttttt
Akupun terkulai lemas disamping Titin dan tanpa kusadari aku tertidur dalam keadaan telanjang. Pas aku bangung ternyata hari sudah mulai gelap dan aku lihat Titin sudah tidak ada disampingku. Langsung saja aku pergi mandi membersihkan semua kotoran yg melekat ditubuh akibat pergumulanku dengan Titin tadi siang.
Dua hari kemudian kamipun berangkat menuju terminal dengan membawa 2 buah Tas yg berisi pakaian. Didalam bis titin hanya diam saja dan akupun tidak mau mengganggunya. Akhirnya kami sampai di kampung halaman Titin semasa kecil. Disana aku dan Titin menginap dirumah ayah Titin yg sudah uzur. Dirumah itu hanya tinggal ayah dan adik Titin yg masih SMU.
Bang.. ke kebun yuk ajak Titin
Maen lagi ya.. mau kan? kataku
Titin mengangguk tanda setuju, dikebun aku menggumuli Titin, dikebun itu sangat sepi sekali, aku dan Titin bebas melakukan hubungan intim. Entah berapa kali aku melakukannya dengan Titin selama berada dikampung, dan aku juga tidak pernah menghitung berapa banyak cairan spermaku yg masuk kedalam rahim Titin.
Dan ketika pulang kekota aku sengaja setiap kesempatanmelakukannya dengan Titin karena aku ingin anak yg lahir kelak mirip denganku. Tak terasa bulan berlalu dan akhirnya Titin hamil. Suami Titin sangat girang melihat Titin hamil dan sering sekali suaminya bercerita denganku tentang kehamilan Titin. Aku sendiri tahu bahwa itu anakku.
Dan ketika bayi itu lahir ternyata mirip denganku tetapi lebih banyak mirip dengan Titin dan anak yg lahir itu adalah bayi perempuan. Aku menjadi lega karena hubunganku dengan Titin akan terus terjaga tanpa diketahui oleh suaminya hingga kami terus melakukanya sampai 5 anak kami lahir. Sekian cerita iniyg mungkin dalm bentuk pengunaan bahasa, ejaan ataupun penulisan ternyata ada kekurangan mohon di mengerti karena kurangnya pengalaman dalam pendidikan.
Asisten papa
Andre sarapan berdua saja dengan Mamanya di rumah. Biasanya acara sarapan hari minggu mereka lakukan bertiga bersama dengan papanya. Soalnya...
-
Kisah ini terjadi ketika aku mash berumur delapanbelas tahun, murid kelas dua sekolah teknik setingkat SMU di sebuah kota kabupaten di Sumat...
-
Cerita ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja. Sampai saat ini aku suka tertawa sendiri kalau mengingat awal kejadian ini. Be...
-
Namaku Rio umur 16 th,anak tunggal dan masih sekolah SMK otomotif kelas 2 di Yogyakarta. Aku pendiam dan tak pandai dalam hal pergaulan, tap...