Minggu, 22 Februari 2026

Asisten papa

Andre sarapan berdua saja dengan Mamanya di rumah. Biasanya acara sarapan hari minggu mereka lakukan bertiga bersama dengan papanya. Soalnya di hari-hari lain, tidak ada kesempatan untuk mereka dapat sarapan bersama, apalagi makan siang bahkan makan malam. Kesibukan kedua orang tuanya, menyebabkan mereka hanya dapat berkumpul bersama di hari minggu pagi.

 Papanya yang seorang direktur jenderal di Departeman Dalam Negeri selalu padat dengan kegiatan kantor. Sedangkan sang Mama yang aktivis kegiatan sosial selalu sibuk dengan urusan arisan, urusan anak-anak panti asuhan, anak-anak jalanan, anak-anak pengungsi Aceh, Maluku dan segala macam anak-anak lainnya. Akhirnya Andre, sang anak semata wayang, malah kurang diperhatikan.

Pagi itu, sang papa tidak bisa ikut sarapan bersama karena sedang melakukan kunjungan ke daerah. Katanya sih meninjau pelaksanaan otonomi daerah di tiga propinsi. Paling cepat baru kembali minggu depan. Meskipun kadangkala Andre merasa sedih karena sering ditinggal sendirian di rumah, namun Andre sesungguhnya menikmati kesibukan kedua orang tuanya itu. Rumah yang selalu sepi membuatnya lebih punya banyak kesempatan untuk rame-rame dengan teman-temannya dari Tim Basket SMP Dwi Warna.

"Hari ini Mama pergi lagi Ma?" tanya Andre berbasa-basi pada Mamanya. Ia tahu pasti, sesudah sarapan nanti Mamanya pasti ngeluyur dari rumah dan baru pulang hampir tengah malam.
"Iyalah sayang. Kamu kan tahu, Aceh sedang bergolak nih. Jadinya Mama makin sibuk mengurusi pengiriman stock makanan untuk saudara-saudara kita disana sayang," jawab Mamanya dengan senyum penuh kebijakan.
"Harus itu Ma, Andre juga mau pergi nih abis sarapan," kata Andre.
"Belajar bersama Calvin lagi?" tanya Mama, sambil memasukkan sepotong roti bakar melalui bibirnya yang tipis.

Diusia yang hampir empat puluh tahun, Mama Andre masih kelihatan sangat cantik. Tubuhnya padat seperti gadis usia dua puluh tahunan saja. Gimana enggak, sang Mama kan rajin fitness dan makan makanan suplemen plus minum jamu untuk menjaga stamina dan kekencangan otot serta kulitnya.

"Enggak Mah, Maen basket sama anak-anak,"
"Lho, kamu kan sudah dekat ujian akhirnya sayang. Kok bukannya belajar bareng Calvin, malah maen basket?"
"Ini juga main basketnya bareng Calvin kok Mah,"
"Hmm,"
"Iya. Kata Calvin, sekali-kali perlu refresing juga agar pikiran tidak butek karena belajar terus-menerus. Selain itu kesegaran tubuh kan harus dijaga ma,"
"Gitu ya. Kalau gitu ya terserah. Yang penting kamu belajarnya yang bagus ya sayang, supaya bisa lulus dengan nilai baik di ujian akhir nanti. kalau nilai kamu kurang bagus, cita-cita kamu bisa gagal sayang"
"Beres Mah, Yang penting Mama doain Andre selalu ya,"
"Pasti sayang," jawab Mamanya dengan senyum sayang.

Andre melahap potongan roti bakarnya yang terakhir. Kemudian berpamitan pada Mamanya,

"Andre pergi duluan ya Mah Mama kapan berangkatnya?" tanya Andre sambil mencium pipi Mamanya.
"Setelah Mama beres-beres dulu sayang,"
"Pergi sama Mas Dharma, Ma?"
"Iya dong sayang. Abis sama siapa lagi. Kan supir Mama cuman dia satu-satunya,"
"Oke deh Mah Andre berangkat kalau gitu," kata Andre, disandangkannya ransel olah raganya ke bahunya.
"Hati-hati ya sayang,"

Andre menuju garasi di samping rumah untuk mengambil sepeda motornya. Ia bertemu dengan Mas Dharma disana. Supir Mamanya itu sedang asyik berbasah-basah ria, mencuci sedan milik Mamanya.

"Selamat pagi Mas Andre," sapa Mas Dharma ramah pada Andre sambil tersenyum manis memamerkan barisan giginya yang rapi dan putih.
"Pagi Mas Dharma. Masih nyuci mobil Mas? Mama sudah mau berangkat tuh,"
"Waduh, Mas harus buru-buru kalau gitu," jawabnya.

Kemudian ia sibuk mengelap mobil sedan itu dengan kain yang masih kering. Andre memandangi cowok itu dengan serius. Gimana enggak serius, Mas Dharma ini orangnya ganteng. Bodynya putih bersih dan kekar. Saat ini ia hanya menggenakan celana pendek tanpa atasan, memamerkan dada bidangnya yang dihiasi bulu-bulu halus nan lebat.

Dengan cueknya di depan Andre, Mas Dharma mengangkat-angkat tangannya yang berotot itu saat mengelap atap mobil. Bulu-bulu lebat di lipatan ketiaknya yang putih itu terpampang jelas di mata Andre. Rencana Andre untuk segera meluncur menuju rumah Calvin akhirnya tertunda. Pelan-pelan ransel yang tadi sudah disandangnya diletakkannya di lantai. Ia mendekati Mas Dharma, pura-pura mengamati kegiatan mencuci mobil supir ganteng itu.

"Mas, bagian atas ini masih basah nih," komentarnya, ia tak mau menimbulkan kecurigaan Mas Dharma.

Mas Dharma ini sebenarnya adalah ajudan papanya Andre yang bertugas di rumah mereka. Usianya masih muda, baru 24 tahun. Asli Manado. Dia lulusan STPDN bertugas sejak sang papa diangkat menjadi dirjen.

Ajudan ini kekar. Maklum aja ketika pendidikan dulu kan dididik semi militer. Kebetulan juga memiliki paras yang ganteng. Saat sang papa memperkenalkan ajudan itu kepadan Andre dan mamanya, mamanya blingsatan. Waktu itu dia datang dengan menggenakan seragam semi ketat. Mamanya dapat melihat dengan jelas otot-otot terlatih dibalik seragam itu. Tonjolan besar di selangkangan membuat memek mamanya ngaceng berat. Akhirnya untuk menuntaskan birahinya yang memuncak mamanya melakukan onani di kamarnya, ia belum berani untuk ngajak dia berhubungan sex. Mamanya selalu berharapS suatu saat dia bisa ngerjain ajudan itu. Berdiri dekat-dekat Mas Dharma membuat birahi mamanya semakin meningkat. Vagina mamanya sudah berdenyut-denyut. Ia tak mau ngecret sambil berdiri karena horny ngelihatin Mas Dharma. 

Andre hampir tiba di rumah Calvin. Tiba-tiba disadarinya ransel olah raganya tak tersandang dipunggungnya. Gara-gara mengamati sang ajudan ia terlupa mengambilnya lagi saat pergi. Segera Andre memutar laju sepeda motornya kembali ke rumahnya. Gimana dia mau main basket kalau pakaian basket tak dibawanya.

Tak sampai lima belas menit, Andre sudah kembali ke rumah. Dilihatnya mobil sedan sang Mama yang mengkilap masih terparkir dengan rapi di garasi.

"Dasar Mama, beres-beres aja lama banget," pikirnya.

Dicarinya ranselnya di garasi, namun tak ditemukannya disana. Kemana ya? Ia segera menuju dapur mencari Mbak Minah, pembantu rumahnya. Barangkali pembantunya itu menyimpan tasnya.

"Eh, Mas Andre. enggak jadi perginya Mas?" tanya Mbak Minah.
"Tadi sudah pergi. Tapi ransel saya ketinggalan. Mbak ada lihat enggak?"
"Enggak ada Mas. Memangnya tadi Mas Andre tinggalin dimana?"
"Di garasi, waktu Mas Dharma nyuci mobil tadi,"
"Mungkin dibawa sama Mas Dharma kalau gitu,"
"Mas Dharma kemana Mbak?"
"Mungkin di kamarnya Mas, kan mau pergi dengan ibu,"

Andre segera menuju kamar tidur Mas Dharma. Tapi tak ada orang disana. Ia hanya menemukan tempat tidur yang kosong. Kamar mandi didalam ruangan kamar itu juga kosong. Ia kembali ke dapur menemui Mbak Minah.

"Enggak ada Mbak, kemana ya?"
"Coba liat di ruang kerja Bapak Mas. Tadi ibu menyuruh saya memanggil Mas Dharma ke ruang kerja Bapak. Tapi apa masih disana ya? Coba liat dulu Mas,"

Andre segera menuju ruang kerja papanya yang terletak disamping kamar tidur kedua orang tuanya itu. Sesampainya disana dilihatnya pintu kamar kerja sang papa tertutup. Ia memutar gerendel pintu itu, ternyata terkunci. Andre segera menuju kamar kedua orang tuanya. Barangkali Mamanya masih di kamar itu beres-beres. Ia bisa bertanya tentang keberadaan Mas Dharma pada Mamanya. Diputarnya gerendel pintu kamar itu, ternyata tidak terkunci. Andre segera memasuki kamar besar itu. Mamanya tidak terlihat duduk di meja riasnya. Matanya menelusuri seluruh isi kamar. Kosong. Pintu kamar mandi Mamanya terbuka, tak ada orang disana.

Matanya kemudian tertumbuk pada pintu penghubung antara ruang kerja papanya dengan kamar tidur kedua orang tuanya itu. Pintu itu dilihatnya buka sedikit. Andre mendekati pintu itu. Barangkali Mamanya ada disana, pikirnya. Ketika langkahnya semakin dekat dengan pintu kamar itu, telinganya tiba-tiba menangkap suara-suara dari ruang kerja papanya. Ia menghentikan langkahnya, mencoba berkonsentrasi mendengarkan suara itu. Tiba-tiba jantung Andre berdegup dengan keras. Perasaannya mulai tidak enak. Suara yang didengarnya itu adalah suara-suara erangan-erangan tertahan, milik laki-laki dan perempuan.

Andre semakin mendekat ke pintu kamar yang terkuak itu. Ia longokkan kepalanya sedikit ke celah pintu yang terbuka itu. Serta merta mata Andre melotot melihat pemandangan di ruang kerja papanya itu. Diatas meja kerja papanya, dua manusia lain jenis dalam keadaan bugil sedang asyik memacu birahi dengan penuh nafsu. Kedua manusia itu tiada lain tiada bukan adalah Mamanya dan Mas Dharma sang ajudan! Kaki Andre terasa lemas, jantungnya seperti mau copot.

Dari tempatnya berdiri saat ini ia dapat melihat sang Mama sedang ditindih oleh Mas Dharma. Mama Andre telentang dengan kaki mengangkang lebar diatas meja, sedangkan diatasnya Mas Dharma melakukan genjotan pantat dengan gerakan yang cepat dan keras sambil bibirnya melumat bibir sang Mama dengan buas. Meskipun ia tak bisa melihat batang kontol Mas Dharma, karena terhalang oleh paha Mamanya, namun ia yakin seyakin-yakinnya, batang kontol milik ajudan ganteng itu sedang mengebor lobang vagina Mamanya tanpa ampun. Baik Mamanya maupun Mas Dharma sama-sama mengerang-erang keenakan.

Andre tak pernah menyangka akan menyaksikan peristiwa ini. Ia tak pernah menyangka Mamanya akan melakukan zinah dengan ajudan papanya sendirinya. Mamanya yang selama ini dikenalnya sebagai aktivis kegiatan sosial dan selalu berbicara soal norma-norma moral, ternyata melakukan perselingkuhan di ruang kerja milik suaminya sendiri!

Andre tidak tahu harus melakukan apa. Ia sangat marah. Mukanya merah, tangannya mengepal-ngepal menahan amarah yang membara. Ia menarik kepalanya dari celah kamar. Dengan kesal dihempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur orang tuanya. Dari ruang kerja papanya terdengar racauan-racauan mesum dari mulut Mamanya dan sang ajudan.

"Ohh.. Ohh.. Enakkhh.. Terusshh..," racau Mamanya.
"Hihh.. Hihh.. Apahh.. Yang enakhh.. Hihh.. Buh..,"
"Konthollsshh.. Kamuhh.. Dahrmahh.. Ouhh..,"
"Ibuh sukahh.. Hihh.. Ouhh.. Ouhh.. Sukahh??,"
"Sukahh.. Besar.. Bangethh.. Ouh.. Dharmahh..,"
"Hihh.. Mememkhh.. Ibuhh.. Jugahh.. Enakk.. Buhh.. Ohh..,"
"Enakhh?? Benar.. Enakhh.. Darmahh..??"
"Yahh.. Iyahh.. Buhh..,"

Meskipun sangat marah, racauan yang didengarnya itu sungguh-sungguh sangat merangsang. Birahinya mulai bangkit. Akhirnya meskipun dilanda kemarahan, remaja ganteng itu kembali mendekati pintu penghubung kamar itu. Ia kembali mengintip persenggamaan mesum Mamanya dan Mas Dharma itu. Persenggamaan mereka sangat bersemangat dan kasar, racauan mereka benar-benar sangat merangsang, akibatnya Andre tak mampu menahan kontolnya yang mulai mengeras. Tangannya kemudian menyusup ke balik celananya, meremas-remas batang kontolnya sendiri.

"Enakhh.. Manah.. Samah.. Ohh.. Memmek.. Bu.. Menterihh.. Ohh..," racau Mamanya lagi.
"Enakkhh.. Mememkhh.. Ibuhh..,"
"Mmmasakhh sihh.. Dharamahh.. Oohh.. Yesshh.. Disituhh.. Ahh..,"
"Iyahh.. Buhh.. Masih.. Serethh.. Ohh.. Njepithh..,"

Andre kaget mendengar racauan itu. Tak disangkanya ternyata Mas Dharma ini pernah ngentot sama istri menteri juga rupanya.

"Kalauhh.. Samahh.. vagina.. Fenihh.. Pacarhh.. Kamuhh..?"
"Ohh.. Samah.. Samahh.. Enaknyahh, .. Buh.. Ohh..,"
"Dasarhh.. Sshh.. Gombalhh.. Ouhh..,"
"Ohh.. Ohh.. Ohh.. Yahh.. Ohh., ..,"
"Kerashh.. Oohh.. Besarhh bangethh.. Ohh..,"
"Samahh.. Samahh.. Sayanghh.. Ohh.. Yesshh..,"

Beberapa saat kemudian sang Mama dan Mas Dharma berganti posisi. Mas Dharma tidur telentang diatas meja kerja dengan kedua pahanya yang kokoh dan berbulu itu menjuntai ke bawah. Sang Mama kemudian duduk diatas selangkangan Mas Dharma. Saat Mas Dharma mengatur posisi, Andre sempat melihat barang perkasa Mas Dharma dengan jelas. Benar-benar besar, gemuk dan panjang dihiasi dengan bulu jembut yang lebat. Panjangnya sekitar dua puluh centimeter. Pantes aja Mamanya keenakan banget.

Tiba-tiba muncul pikiran nakal di benak Andre. Ia ingin ngerjain Mamanya dan sang ajudan. Dikeluarkannya ponsel mungilnya yang memiliki fasilitas video phone itu dari saku celananya. Sambil terus meremas-remas kontolnya sendiri, Andre merekam persenggamaan mesum Mamanya dan Mas Dharma itu.

Sang Mama menggenjotkan pantatnya naik turun dengan keras. Mas Dharma membalas dengan genjotan pantat yang tak kalah keras. Suara tepokan terdengar keras,

"Plokk.. Plokk.. Plokk.. Plokk..,"

Kamar kerja papa Andre diramaikan dengan suara-suara erangan, jeritan, desahan dari mulut Mamanya dan Mas Dharma.

"Hahh.. Hahh.. Hahh.. Ohh.. Tekan lebihh.. Dalamhh," erangan Mas Dharma kedua tangannya meremas-remas payudara Mama Andre.
"Hihh.. Beginihh.. Hihh..,"
"Lagihh.. Ohohh.. Ahh.. Ahh..,"
"Hihh.. Beginihh.. Ohh..,"
"Yeshh.. Yeshh.. Terusshh.. Ohh.. Ohh..,"

Tiba-tiba tubuh Mas Dharma yang tadi berbaring bangkit. Dalam posisi tubuh menekuk, kepalanya bersarang di payudara sang Mama yang besar dan bergoyang-goyang akibat genjotan yang mereka lakukan. Dengan buas Mas Dharma mengisap pentil payudara sang Mama yang kemerahan.

"Ohh.. Dharmahh.. Nakalhh kamuhh.. Ohh.. Enakhh..," Mama meracau semakin menggila.

Kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan. Rambut yang sebahunya yang basah oleh keringat berkibar-kibar. Mama Andre benar-benar keenakan. Kedua tangan sang Mama memeluk punggul lebar Mas Dharma dengan kuat. Tak sampai lima menit dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba genjotan Mama berhenti. Mulutnya meraung keras. Pantatnya bergetar menekan keras menggencet selangkangan Mas Dharma. Tubuhnya yang basah oleh keringat berkelojotan.

"Ahh.. Akuhh sampaihh.. Ouhh..," erangnya.

Mas Dharma terus menyelomoti payudara sang Mama. Semenit kemudian kepala sang Mama terlihat bertumpu ke bahu Mas Dharma. Ia lemas karena orgasmenya.

"Saya lanjuthh yah buhh..," kata Mas Dharma minta ijin melanjutkan. Soalnya orgasmenya belum datang.
"Silakan Dharmahh.. Ohh..," suara sang Mama terdengar lemas.

Mas Dharma kemudian turun dari meja kerja itu. Tanpa melepaskan kontolnya dari lobang vagina sang Mama, Mas Dharma membopong tubuh sang Mama kemudian membaringkannya telentang diatas lantai yang berkarpet. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya menyetubuhi sang Mama. Andre bisa melihat tubuh Mamanya yang lemas itu dikentot Mas Dharma dengan penuh keperkasaan.

"Sakit buhh.. Ahh..?"
"Terus sayanghh.. Saya istirahat sebentar ahh.. Kamuhh terusshh ajahh.. Ohh.."

Tak sampai lima menit sang Mama kembali bergairah. Pantatnya kembali bergerak-gerak dengan luwes membalas gerakan Mas Dharma. Rupanya sang Mama tak mau hanya menjadi objek. Tiba-tiba ia membalikkan posisi, untuk kemudian menindih tubuh atletis sang ajudan ganteng yang bersimbah keringat. Dengan penuh semangat sang Mama kemudian menggenjot pantatnya naik turun mengocok batang kontol Mas Dharma dengan memeknya yang basah dengan cairan lendirnya sendiri, sambil menciumi bibir ajudan muda ganteng itu dengan binal. Dari mulutnya keluar erangan-erangan,

"Urghh.. Urghh.. Yahh.. Yahh,"
"Ohh.. Ibuhh.. Ohh.. Buashh.. Banget.. Ohh..," racau Mas Dharma.
"Kamuhh.. Sukahh.. Kanhh..,"

Begitulah. Permainan cabul antara Mamanya Andre dan Mas Dharma yang memakan waktu tak kurang dari dua jam itu akhirnya usai dengan skor 5-2 untuk kemenangan Mas Dharma. Maksudnya, sang Mama ngecret tiga kali, sedangkan Mas Dharma ngecret dua kali saja didalam vagina sang Mama.

Andre sendiri ngecret dua kali. Sperma kentalnya melumuri daun pintu kamar penghubung. Ia sangat terangsang menyaksikan live show sang Mama dan Mas Dharma. Ia tak sabar untuk segera dapat mengerjai sang ajudan yang gila ngentot itu. Dengan tubuh yang masih terasa lemas akibat orgasme, perlahan-lahan Andre meninggalkan kamar orang tuanya. Spermanya yang menempel di daun pintu kamar dibersihkannya terlebih dahulu. Saat meninggalkan kamar, Andre, masih sempat melirik Mamanya dan Mas Dharma yang berbaring saling berpelukan di lantai. Keduanya terlihat sangat lelah.

Andre segera melaju kembali dengan sepeda motornya menuju rumah Calvin. Sepanjang perjalanan ia menyusun rencana untuk mengerjai Mamanya dan Mas Dharma nanti. Ia tersenyum-senyum cabul membayangkan rencananya itu.

Setiba di rumah Calvin, teman sekolahnya itu sudah menunggu di teras sambil duduk santai membaca majalah remaja. Calvin menggenakan t-shirt putih polos dan celana jeans biru plus topi pet hitam. Wajah gantengnya tersenyum senang menyambut kedatangan Andre.

"Kok telat Ndre?" tanyanya.
"Sorry Vin. Ada urusan sama Mama tadi," jawab Andre nyengir, "Kita langsung cabut aja yuk. Sudah hampir jam sepuluh nih,"

Sejak hari itu Andre mendapatkan 3 adik dan mamanya masih mengandung lagi semenjak mas dharma kerja dengan papanya  hampir 10 tahun. Namun hanya Andre yang sangat mirip dengan papanya.

Senin, 22 Juli 2024

Dilema (Mama)

Namaku Rio umur 16 th,anak tunggal dan masih sekolah SMK otomotif kelas 2 di Yogyakarta. Aku pendiam dan tak pandai dalam hal pergaulan, tapi untung aja aku punya teman dekat sekelas bernama Dicky yang aku kenal sejak kelas 1.
aku berasal dari keluarga yang sederhana (tidak kaya, tidak miskin). ayahku bekerja sebagai kepala divisi container di sebuah CV yg memang dalam 2-3 tahun terakhir ini mendapat kontrak di sebuah pelabuhan besar di Surabaya…. jarang pulang Cuma sehari atau 2 hari seminggu.
Sedangkan ibuku sendiri Sinta (39 th)hanya ibu rumah tangga orangnya jga gak terlalu banyak bicara tetapi kalau diajak ngobrol sih asik juga soalnya mungkin karena udah dewasa dan bersifat ke-Ibuannya dalam segala hal. Terkadang juga sering cuek mungkin sifatnya ini yang menurun kepadaku. Aku memanggilnya “mama” sejak kecil
di rumahku mama memiliki usaha toko sembako yg tidak terlalu besar tapi juga memiliki usaha lain sebagai penjual baju wanita yg memang hanya dijual kesekitar lingkunganku aja.. mungkun karena itulah dia selalu berdandan rapi dan menarik seperti ABG yg berumur 20’an, celana jeans ketat dan kaos tanpa lengan, wajah manis, putih, rambut bergelombang sepundak, perawakan langsing, payudaranya juga biasa2 aja.
kembali pada cerita,
hamper setiap hari aku dijemput dan diantar pulang oleh temanku (dicky) saat berangkat sekolah.. kadang juga aku naik bis kalau tak dijemput dicky ..hal itu terjadi sejak akhir semester saat kelas 1 dikarenakan aku tak diperbolehkan mama membawa motor sendiri karna aku pernah tabrakan saat kelas 1 dan juga karena motorku yang serig kuprotol- protoli .. hehehe maklumlah anak SMK Otomotif emng semua seperti itu… awalnya mama marah dengan tindakanku itu tapi lama – lama juga dia pun memaklumi sifat ku…
nasihat dan nasihat selalu saja seperti itu kepada aku dan dicky kalau udah pulang sekolah…….
tapi aku dan dicky kadang hanya menanggapinya dengan canda tawa…. mungkin itu juga yang membuat mama kadang membiarkan aja kenakalan kami..
tak jarangpun aku dan dicky sering gak berangkat sekolah, membolos dan hanya nonoton TV dirumahku
“namanya juga anak muda haha” dalihku setiap dinasehati ….dicky pun membelaku saat dinasehati
Bulan desember 2010 …… dicky sering bolos waktu jam2 akhir pelajaran, tak tau kenapa.. aku pun hanya naik bis saat pulang sekolah.. dan waktu sampai rumah selalu saja motornya udah ada didepan rumah
“sialan kamu Dick” kataku pada saat msuk rumah dan duduk di sofa sebelahnya
“lah gimana toh?” katanya Dicky sambil ketawa2
“tadi aku dimarahin Pak Andre (guru matematika) karna dikira ngajarin kamu bolos” kataku
“masa?” katanya.. terdiam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan “ aku emg gak suka tu sama plajaran pak Andre… orangnya cerewet kya cewe yg lagi mens”katanya
mama pun dating dari arah dapur menuju ruang tamu tempat kami ngobrol dan ikut nimbung juga
“Dicky klo bolos terus nanti gak naik kelas lo nanti” kata mama
“abis bosen tant… udah gurunya cerewet, dikelas gk ada cewenya….. huuufff boring sangat, tant” ktanya
“tar kmu nyesel sendiri lo, dick” kata mama sambil berjalan ke arah took dan membuka gorden yg membatasi toko dengan ruang tamu, lalu lalu duduk di kursi belakang etalase
Keesokan harinya dicky pun bolos lagi pada jam terakhir padahal hari itu hari jumat… aku gk terlalu peduli juga sih sebenarnya… males juga mikirin di Dicky….
jam 12.30 aku turun dari bis lalu berjalan kearah rumah… “kok sepi banget ya sepanjang jalan”kataku dalam hati
“akh… mungkin belum pada pulang jumant-an”
aku berjalan perlahan sambil memikirkan hal itu samapai depan rumah.. aku melihat motornya Dicky ada di depan rumah saat itu… aku gak begitu peduli juga saati itu. saat mau masuk kerumah aku berhenti sejenak sambil melihat kea rah toko
“ kok, gk ada yang jaga sih… klo kemalingan gimana”kataku dalam hati sambil berjalan kearah toko
aku duduk sejenak didepan lalu mengambil sebuah Koran di atas etalase lalu membuka halaman per halaman mencari berita olahraga….
kira2 5 menit aku mebaca Koran aku mendengar seperti suara cekikikan (ketawa) dari arah ruang tamu.. aku masih belum peduli saat itu, mungkin karna konsentrasiku masih pada Koran itu…
tak lama kemudian akupun berdiri sambil melepaskan tas punggungku lalu menaruhnya ke atas etalase…. saat itu aku mendengar lagi suara wanita ketawa kecil, aku yakin itu suara mama karena aku hafal betul suaranya…..
perhatianku pun beralih dari Koran ke suara itu sebentar.. aku pun hanya berdiri diam sambil menunggu suara itu lagi
tiba2…. “akhh” “eemmmmmhhhh” itu yang kudengar
jantungku berdebar – debar kencang saat itu juga. Mulai muncul rasa curiga, was – was dan lain2nya becampur aduk
aku pun berjalan ke arah tmbok toko yang bersampingan degan ruang tamu tempat suara itu berasal….
jantungku berdebr semakin kencang, hingga aku bisa merasakn darahku mengalir ke kepala begitu cepat dan derasss sekali
“ooohhhhhh” suara mama ….. aku agak kaget saai itu tapi tetap mencoba tenang lalu perlahan berjalan kea rah tembok….
tanganku meraih kain gorden pembatas ruang tamu dan toko sambil kubuka perlahan lalu ku intip kearan ruang tamu
aku hanya bisa terdiam dan melongo melihat apa yg baru kusaksikan
mama saat itu duduk di sofa tunggal hanya mengenakan kaos berwarna ungu sedangkan bagian bawahnya telanjang tanpa penutup apapun..kakinya sedang mekangkang dan kulihat si Dicky sedang jongkok didepan selangkangannya dengan masih menggunakan seragam sekolah lengkap…. Tangan Dicky saat itu tepat berada di tengan selangakangan milik mama,
tangan itu pun digerakan maju mundur perlahan sesekali terlihat menggosok – gosok selangkangan mama
aku hanya bis melihat dari samping terlihat agak samar2 vagina mama penuh, lebat dengan bulu
wajah mama terlihat pucat lemas matanya pun hanya terbuka setengah sesekali menutup sambil dari mulutnya mengeluarkan suara “emmmhhh” lalu tersenyum manis menatap dicky
aku bingung harus ngapain saat itu.. rasa kecewa, emosi juga menabah kebingunganku… ingin rasanya aku masuk kesana lalu memberi pukulan ke wajah mesum dicky
kebingungan seolah mumbuatku menjadi tak punya pilihan antara masuk dan menghajar Dicky atau hanya diam dan menyetujui apa yang mereka lakukan… aku berada tepat ditengah Dilema antara ikhlas dan benci pada mereka
ditengah2 pikiranku yang mulai kacau balau penuh kebimbangan aku melihat wajah mama yang manis dan seolah tak berdosa, membuatku diam kaku sesekali lenganku gemetaran, hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu saja

“SIAL, SIAL, SIALLLLLLLLLLLLLLLLl” “BRENGSEKKKKKKKKKKKKKKKKKK” “ANJINKKKKKKKKKK”kataku dalam hati
tapi waktu tetap saja tidak bisa berhenti
Pada akhirnya……..
“akhhhh…. ahhh ahhh ahhhh” …….. “emmmmmmmamhh” mama memejamkan matanya lalu kedua pahanya merapat, menjepit tangan Dicky dan badanya bergerak kaku maju mundur lalu lemas sambil tangan kanannya menutupi mulutnya yang terbuka..
“itukah yang dinamakan wanita sedang orgasme” kataku dalam hati, sambil melihat mama penuh kagum dan tanda tanya besar……..
Dicky hanya ketawa kecil sambil melihat wajah mama, mama hanya mebalas dengan senyum manis seperti seoanga anak kecil yg masih malu – malu. Dengan sedikit tenaga yg tersisa mama berdiri, sedang Dicky masih jongkok aja di hadapan mama…. wajah dicky tepap berada di depan vagina mama, dicky tanpa malu memeluk dan mencium vagina mama sebentar
“wah, kalo ini berlanjut bisa bahaya nih”kataku dalam hati
akupun berjalan perlahan keluar dari toko lalu menuju pintu luar depan ruang tamu….. dengan santai (mungkin tepatnya pura2 santai tapi masih emosi) aku mengetuk….
terdengar suara bisik2 gak jelas, lalu terbukalah pintu depan….. kulihat mama udah gak ada diruang tamu, sepertinya mama udah kabur lari ke belakang
kulihat wajah dicky agak memerah saat itu, aku tidak berkata apa2 haya masuk tanpa peduli pada Dicky lalu berjalan begitu aja kearah kamarku di tingkat 1tepat diatas kamar mama.. setelah menggati pakaian aku turun kembali ke ruang tamu, ehh.. ternyata si Dicky udah pulang.. SIALLL padahal aku baru aja mau menanyai dia.
mama datang dari arah kamarnya dengan wajah tanpa rasa berdosa dan seolah tak terjadi apa2 lalu bertanya
“udah makan?”
“PERTANYAAN BODOH!!!!!” kataku dalam hati
Semalaman itu aku tak bisa tidur karna mengingat kejadian diruang tamu tadi siang…. aku mencoba menenangkan diri dulu malam itu.
mungkin saja mereka melakukan itu tanpa sengaja
mungkin juga mama yang memulai duluan, karena papa udah lama gak “ngasih” dia, hanya itu yang berputar dalam otaku malam itu
setelah tenang akupun tidur
keesokan harinya aku berangkat lebih awal sebelum dicky dtang kerumah…. Saat istirahat dicky menghampiri aku lalu mengajak aku ngobrol. aku pun menggapi seolah tak terjadi apa2 meskipun dalam hati masih ada ras benci
siang itupun aku diantar pulang oleh dicky.. aku mulai merasa lunak kepadannya mingkin karena merasa hutang budi karena hampir setiap hari dia antar – jemput aku kesekolah dan juga karena merasa dia satu2nya seorang sahabat karibku
sesampai rumah aku, dicky dan mama pun ngobrol2 seperti biasa meskipun kadang kadang aku melihat mereka sering saling senyum….. tak apalah mungkin aja mereka “melakukan” kemarin karena khilaf aja
Hari seninnya kemudian aku dijemput Dicky berangkat sekolah, tapi anehnya saat istirahat kok aku udah tak melihat tampangnya si Dicky saat itu. . aku mulai curiga kalau dia bolos pelajaran agar biasa duluan kerumah untuk “ngerjain” mama lagi. Sepanjang pelajaran aku udah mulai gak konsen lagi, pikiran2 yg tidak2 mulai penuh dikepalaku semakin kupikirkan semakin aku mulai mersa resah…
Karna udah gelisah akhirnya aku meminta ijin untuk pulang duluan pada guru… meskipun awalnya gak diijinkan tpi karena gelisah terus menerus akhirnya kau pun pura2 sakit….
setelah turun dari bis dengan berjalan cepat kerumah dalam pikiranku sudah gelisah terus…
dan, Yah ternyata benar saat sudah memasuki tikungn dekat rumah aku meliahat ada sepeda motor milik dicky udah terparkir disana… aku pun melihat pintu toko setengah tertutup.. itu sih tandanya mama sedang sibuk dibelakang…. dari situ Aku sudah bisa menerka apa yang mungkin terjadi didalam rumah
Karena sepertinya kalau aku mengintip mereka dari toko seperti kemarin mungkin aku agak kesulitan karena pintu kios harus kubuka penuh dulu agar bisa masuk….
akhirnya kuputuskan masuk lewat belakang rumah, lagian kalo lewat pintu belakang mungkin aku bisa melihat kegiatan mereka dengan lebih jelas…. Cepat – cepat aku berjalan ke belakang rumah, aku beruntung saat itu karena pagar belakan rumah tidak dikunci… perlahan2 aku masuk melewati tempat jemuran sambil mataku lirik kiri dan kanan memastikan tak ada yang mengetahui, karena jika kethuan mungkin aku gak bisa menonton adegan mama dan Dicky
Sampai di pintu dapur yg terbuka aku mulai mengintip, tapi anehnya saat itu ruang tamu yang kelihatan jelas dari situ sepi tak ada orang
“wah, kemana nih mereka berdua”kataku dalam hati….. Aku mencoba untuk menenangkan diri dan mengambil nafas dahulu sambil memastikan tak ada yang melihat aku disini….. Menunggu, menunggu lama aku mulai putus asa juga saat itu….. Tapi samar2 aku mendengar suara seperti orang ngobrol dari arah kamar milik mama
“Oh iya….. Dikamar mama!!!!!… aduh bodohnya aku!!!”k ataku dalam hati
kulepas sepatu agar tak terdengar suara… lalu berjalan ke arah kamar mama. Sial pintunya tertutup …..
lalu aku coba mengintip dari lobang kunci pintu.. ternyata tak terlihat sama sekali…. aku pun cepat2 mengambil kursi plastik didapur lalu mencoba ngintip dari lobang ventilasi atas pinti kamar….. dengan dada yang berdebar debar aku naik perlahan
oh gila…. pemandangan pertama yang kulihat.. mama sedang telanjang bulat tidur terlentang dan si Dicky disampingnya hanya mengenakan kemeja putihnya tanpa celana sedang memeluk pinggang mama
aku baru sadar payudaranya mama lumayan besar,sungguh berbeda saat dia menggunakan kaos, sedangkan vaginanya tak kelihatan sama sekali Cuma bulu2 tebalnya aja
ini pertama kalinya aku melihat mami telanjang bulat dalam hidupku ,bersama seorang lelaki lagi.. jantungku berdebar kencang sekali takut ketahuan….. tapi untung tempat tidur berlawanan arah dengan pintu pakam jadi kemungkinan ketahuan lebih sedikit
yang terlihat mereka bukan sedang bercinta tapi hanya peluk2an dan cium2an aja… aku nunggu agak lama tapi hanya itu aja yang mereka lakukan…. “wah aku telat nih”dalam hati. aku gak sempat melihat mereka berhubungan bdan
tapi saat itu penisku sempat menegang keras, aku juga gak tau kenapa… setelah kira2 10 menitan kulihat Dicky bangun lalu mengenakan celananya… Sial ternyata mereka sepertinya sudah mau udahan
Aku pun cepat2 turun lalu mangangkat kursi plastik menuju dapur sambil mencari tempat bersembunyi lagi. tak lama kemudian mereka keluar dari kamar dengan pakaian lengkap lalu berjalan menuju ruang tamu…
Diruang tamu terlihat mereka bercanda lepas seperti sepasang kekasih.. mama saat itu duduk di pangkuannya Dicky
berkali kali aku melihat tangan Dicky meraba2 tubuh mama. mama Cuma ketawa2 aja
ehh tapi tunggu… tak lama kemudian aku melihat mama berdiri lalu melorotkan celana ketat pendek dari kolor miliknya tanpa membuka kaos…
tangan dicky pun langsung hinggap divaginanya langsung digosok gosok
“akhh…….” kulihat mata mama terpejam agak lama..
mungkin karena udah nafsu tangan mamapun menarik resliting celana abu2 milik Dicky menarik penisnya keluar lalu tiba2 langsung menduduki Dicky
“Achhhhh….. Masukk!!!!!” samar2 kudengar
“Enak,tant?”
“He’em enakkkk uhhhh!!!”uhhhh”uhhhhh”
dari belakang mereka kulihat jelas penis Dicky masuk secara mutlak kedalam vagina mama… Dicky menggerakan pantat mama naik turun berkali kali meskipun terlihat agak berat… Sedangakan mama hanya diam pasif meskipun berada diatas Dicky
“ahhhh…. emmhhhhh” ahhhhh!!!!! lagi, lagi, lagi“ kata mama
penisku pun ikut berdiri saat mendengar mama yang sedang menikmati persetubuhan itu
kira2 20menit kemudian mama pun mencapai orgasmenya saat diatas Dicky. ku ketahui setelah kulihat tubuhnya mengejang
dam mulutnya terbuka tapi tak bersuara sambil memeluk dicky dengan begitu kencangnya…

“belum keluar ya punyamu ?” kata mama
“isapin yah, biar cepet keluar?”sambung dicky
mama menggeleng gelengkan kepalanya tanda menolak lalu berkata “jijik!!! tante belum pernah”
“makanya dicoba donk,tant” kata dicky sambil sdikit mndorong mama agar jongkok di depannya…. tiba2 aja kepala mama pun ditarik Dicky dengan cepat kearah penisnya dan langsung masuk.. awalnya seperti dipaksa tapi lama lama mama nurut aja dan ngisep penisnya dicky.. aku baru tau ternyata Dicky benar2 hebat dlm urusan wanita, mama aja dibuatnya nurut seperti itu
10 menit kemudian dicky pun melepas spermanya ke mulut mama,,, mama pun langsung muntah saat itu ….
dicky hanya ketawa saat itu….. mama pun berjalan kearah dapur sepertinya mau mencari kain lap untuk muntahannya .
karena tak ingin ketahuan aku pun segera pergi dari dapur lalu bersembunyi di luar pagar belakang rumah……
sejak saat itu Dicky sering Bolos sekolah dan kerumahku dengan alassan yang aneh2… sedangkan aku masih aja stuck dengan DILEMA antara Iya dan tidak untuk membiarkan mereka

andai saja aku bisa tegas mungkin mereka bisa kucegah…..mamaku dan sahabatku!!!! sungguh tragis
aku sakit hati jika mengingat mereka melakukan itu. Keluargaku sudah hancur
apa jadinya jika papaku tau apa yang mereka lakukan dibelakang papa
waktu berjalan seminggu….. hampir setiap hari Dicky membolos dan setiap aku pulang aku selalu menyempatkan diri mengintip mereka.. ternyata aku baru tahu alasan bahwa mama memang sengaja mengenakan celana kolor prndek dirumah 1 bulan terakhir ini karena diminta oleh Dicky.
setiap ku intip diruang tamu pasti mama hanya mengenakan kaos tapi tanpa bawahan. tak tau mengapa itulah yang sering kulihat selama seminggu terakhir saat ngintip mereka
Pernah suatu kali aku pulang sekolah aku melihat motor Dicky udah terparkir di depan rumah
“si Setan ini pasti lagi gituin mama nih”dlam hati.. iseng2 aku coba ngintip ruang tamu lewat toko.. tapi ternyata Cuma ada dicky seorang disitu sedang menonton TV. Mungkin mereka sedang tak “maen” hari ini pikirku

…. “Clackkk” aku membuka pintu lalu duduk disamping Dicky. kami tak banyak cerita saat itu…. tapi tiba2 dari arah dapur mama datang hanya mengenakan kaos tanpa lengan tapi bawahnya tak tertutup sama sekali… kami begitu kaget apalagi mama, “wow bulunya”kataku dalam hati sambil memandang terus ke arah vaginanya.. mama pun hanya diam lalu seolah bingung mau kemana …..mama lalu berjaln ke arah kamarya
Tapi Enth kenapa mungkin karena shock ato kaget apalah mama berjalan biasa tanpa menutupi vaginanya yang sedang terekspos saat itu(mungkin karena udah sering kali ya hehehe)
waktu berjalan hampir sebulan aku sampai bosan ngintip terus….sementara hubungan persahabatnaku dengan Dicky makin renggang meskipun dia masih sering menjemput aku saat berangkat sekolah tapi tetap aja kerenggangan itu tetap ada
begitu juga dengan mama, kadang aku pulang sekolah mama gk pernah menyiapkan makan siang, jadi biasanya pulang sekolah aku jajan dahulu setelah sampai rumah langsung masuk kamar dan tidur hingga sore sehingga komunikasi seolah hilang dalam sebulan terakhir itu
kadang saat pulang sekolah aku ingin ngobrol dengan mereka berdua tapi tetap aja ada rasa malas… yahh meskipun mereka tak tertangkap basah lagi “berbuat” tetap aja aroma2 sehabis mereka mesum di rumahku masih tercium… itu membuatku malas ngumpul2 lagi meski tiap hari ketemu
hingga pada awal januari 2011…..
saat itu aku berangkat sekolah dengan bus setelah sampai sekolah aku bertemu Dicky di kelas, entah kenapa hari itu tiba2 dia menghampiri aku yang sedang berjalan keluar kelas.. kami pin berjalan bersama untuk nongkrong sebentar di depan sekolah karena itulah kegiatan yang sehari-hari kami lakukan saat bel tanda masuk kelas dibunyikan…..
terlihat dia agak canggung saat mengajaku ngobrol
“eh sob….. aku pengen ngomong sesuatu nih”
“apaan?”kataku sambil melihat tingkah anehnya saat itu
“kamu marah gak kalo aku jadi pacar mama kamu?”
“hah? serius!!!?” kataku saat itu
“serius ni, boleh ga?”
“sama siapa?” tanyaku lagi agak curiga bercampur serius
“sama tante Sinta,mamamu”katannya sambil cengengesan
“woo, dasar setan….!!!! kamu mau aku hajar?”kataku pura2 marah . Meskipun sebenarnya aku gak terlalu menaggapi ocehan dia.. Yang kupikirkan saat itu adalah apa yang sebenarnya dia ingin katakan & apa yang sebenarnya ingin direncanakan oleh dia…..
iseng2 aku bertanya
“emang kamu pernah gituan sama mamaku?”
“hahaha ya jelas belum lah”
“aku Cuma bercanda kok,sob .. Jadi jangan masukun dalam hati ya?” katanya lagi
“tapi kalo kamu emang pengen membahagiakan tnte Sinta mungkin aku bisa bantu, supaya dia tak kesepian waktu papamu tak ada ”
katanya dengan suara agak ragu2 tapi hati2
“ahh aku gak percaya”sambungku
“heh, beneran tante Sinta pasti mau”kata dia
“ohh gitu ya!!!! aku tahu sekarang, ternyata kamu selama ini sering godain mamaku!!!”
“eh eh, bukan gitu sob, aku tuh Cuma nebak2 aja apa pikiran tante Sinta.. Soalnya aku hafal tipe wanita yang butuh kasih sayang itu seperti apa” dalihnya sambil sedikit ketawa agr suasana tak bertambah panas
aku terdiam sebentar
“Gimana masih mau gak? yang tanggung resikonya aku” katanya dengan ngotot
“gak deh.. masa kamu gituin mamaku sendiri, dosa tau ga? kataku agak malu setengah mati
“dosa pikirin belakangan!!!… kamu belum jg pernah gituan kan?blom pernah ngerasain enaknya jg kan?” katanya agak sedikit memaksa
“tar aja, aku pikir2 dulu” kataku saat itu sambil meninggalkan dia di depan sekolah
setelah pelajaran dimulai aku sudah mulai tidak konsen lagi.. pikiranku selalu mengingat apa yang dikatakan Dicky tadi
ahhh sialll!!!!! kenapa aku jadi mikirin hal kaya gini sih. aku gak mau merusak keluargaku ,jadi tawaran itu harus kutolak
tapi… saat istiraht dicky kembali menemuiku dan kembali membahas hal itu dan terus menerus meyakinkan aku bawa tak akan terjadi apa2. aku memang sempat tergoda tawarannya itu tapi kemudian langsung kutolak lagi….
“ini pasti strategi dia agar aku bisa mengijinkan agar dia dengan bebas bisa meniduri mama semau dia”
kataku dalam hati (harapanputra.com)

pelajaran pun mulai lagi… dan kembali aku mulai bimbang dan dilanda Dilema antara Iya dan tidak dengan tawaran Dicky. Saat itu juga pun aku langsung teringat pada tubuh telanjang mama saat kuintip dia bersama Dicky… aku membayangkan bagaimana bentuk vagina mama yang memang selama ini hanya bisa kulihat samar2, lalu bagaimana dengan payudaranya yang bulat dan puting berwarna coklat itu sedang terlentang diatas ranjang… penisku berdiri keras sekali saat itu tak bisa dipungkiri aku juga memang ingin merasakan mama bahagia juga…… tapi apakah sepadan dengan jika akhirnya Dicky juga akan meniduri dia bahkan mungkin didepanku….
bayangan akan tubuh bugil mama seakan membutaku tak bisa konsentrasi lagi… setiap saat selalu muncul saja seperti itu membuat aku semakin bimbang hingga tanpa terasa bel akhir pelajaran pun dibunyikan
saat diparkiran Dicky pu langsung menghaampiriku dan bertanya lagi
“gimana, jadi ga?”
aku hanya diam sambil berpikir
dicky pun langsung menyambar
“udah gak usah dipikir… nanti aku yang bahagiakan tante Sinta, tapi kamu yang rahasiakah hubungan kami, gimana?” katanya sambil menyerahkan helm dan bergegas naik motor
entah kenapa aku hanya nurut aja saat itu.. kami pun bergegas pulang kerumahku dengan hati yang was was terutama aku
waktu bersa begitu lambat meski Diky memacu kendaraanya hingga 80KM/jam….. aku terus menerus gelisah dan juga sedikit ngaceng karena membayangkan tubuh bugil mama
Akhirnya kami tiba dirumah
kamipun langsung turun dan berjalan menuju ruang tamu…. saat berjalan aku melihat mama sedang duduk di toko kelihatan sedikit sibuk dengan pembeli…… kamipun langsung duduk disofa ruang tamu
jantungku udah berdetak kencang sekali saat itu karena aku tak menduga sama sekali akan menjadi seperti ini
dicky pun berdiri saat itu lalu mengajaku becara “gimana?siap belom? hehehe” katanya sambil ketawa mencairkan suasana yang tegang itu sambil berjalan ke arah pintu toko yang hanya tertutup oleh gorden itu lalu membukanya
dengan nada biscara penuh canda Dicky memanggil mama
“Tant, sini donk’
“bentar, baru ngtung duit nih”jawab mama
“ayok donk sini” kata Dicky sambil menghampiri mama yang kulihat sedang menghitung uang di meja etalase…. Dicky menarik tangan mama dengan lembut lalu menariknya ke ruang tmu. mama pun anehnya nurut gitu aja saat digandeng ke dalam.. setelah sampai diruang tamu dicky berkata kepadaku
“aku yang pemanasan, kamu yang jagain kami yah?” katanya sambil memainkan mata kepadaku. Dicky memberi kode Jempol saat itu sambil tersenyum penuh maksud
sedangkan mama hanya diam dan trluhat gugup dan bingung tapi hanya nurut aja saat mengetahui Dicky berkata demikian….
Dicky menggandeng mama menuju kamarnya… sebelum menutup pintu Dicky tersenyum dan berkata “tunggu bentar ya”
aku menunggu diruang tamu dengan jantung berdebar2 dan bimbang harus bagaimana setelah menunggu 5 menit belum juga Dicky keluar dari kamar. akupun memilih untuk mengganti pakaian dahulu
“kok Dicky lama … apa mungkin dia ngicipin vagina mama dulu lal baru aku yang diberi sisa2nya?”tanyaku dalam hati dengan bimbang
aku kembali ke ruang tamu tapi saat itu kulihat pintu kamar mama sedikit terbuka…
 Dengan langkah yang perlahan aku ngintip ke kamar.. begitu masuk aku lihat Dicky disuguhkan pemandangan indah
mama sedang telanjang bulat terlentang diatas tempat tidurnya…. kedua kakinya sedang terkangkang seolah sudah siap untuk di setubuhi… 
saat Dicky berdiri disamping mama . Dicky dan mama saling berpandangan sejenak lalu mama memalingkan mukanya kearah lain, mungkin karena malu… pahanya yang tadi terbuka lebar pun mnutup sendiri
Dicky sendiri hanya tersenyum karena tak bingung harus ngapain
saat itu terlihat jelas baik Dicky dan mama sedang malu-malu tapi mau……
“duduk disini”kata Dicky sambil berdiri di semping tubuh telanjang mama
sambil memperhatikan tubuh mama dengan dekat, aroma tubuhnya benar benar membuatnya tak berdaya
tangan kanan mama menutupi wajahnya sendiri, tangan kirinya mengelus elus rambutnya sendiri yg mulai acak2an
oh, sungguh pemandangan yang sangat indah sekali

“ayok cepat, tante Sinta udah nafsu juga kok…. jangan malu2!!!!” kata Dicky kepadanya tanpa ada rasa ragu atau bersalah karena kata2nya saat itu didengar oleh mama
Dicky memang terbiasa dengan ini… tapi karena Dicky yang dari tadi hanya ngomel2 terus karena mama yang tak kunjung mulai2 akhirnya Dicky berinisiatif meraba paha mama dan mengelusnya.. dia elus2 dari arah luar sampai dalam hingga mama yang awalnya tegang bisa sedikit lemas,,, pahanya yang tadi merapat pun mulai membuka sedikit…..
Aku berkata kepada mereka
“aku mo nutup toko dulu, kalian lanjut aja…”kataku tersenyum sambil berjalan keluar kamar dan menuju toko
disaat itu aku masih aja bimbang harus bagaimana dulu dikarenakan aku memang sangat buta dalam hal ini disamping itu mama pun hanya diam menutup wajah dan mengelus rambutnya… aku bahkan gak tau mama udah terangsang atau belum
yah jadi dilema lagi…….
tak lama kemudian aku masuk ke kamar lagi
“liat nih” katanya saat itu sambil meremas2 kedua payudara mama dng jari kirinya… tak mau kalah jri kanannya menarik wajah mama dan merka pun langsung berciuman mesra
“clkkkk..clkkkk” suara lidah bercampur air liur mereka saat berciuman
“emmhhhh’suara mama ketika bibir mereka saling bertemu
wow… sungguh Dicky benar2 mahir dalam bercumbu dengan wanita
kira2 2 menit mereka salin bercumbu sedang aku hanya mengelus2 paha mama….. Dicky pun berdiri lalu berpindah tanpa kompromi kedua tangannya memegan paha mama lalu membukanya dengan lebarsehingga kami berdua bisa melihat dengan jelas bentuk vagina mama
basah disana apalagi ketika Dicky menusukan jarinya kedalam vagina mama dengan kasar dan langsung dikocok –kocok hingga keluar suara “clak-Clak”
“akhhh!!!! akhhh!!! “ hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil matanya terpejam
Dicky menarik keluar jarinya yang basah akibat lendir milik mama lalu memasukan jarinya kemulut mama…..
mama hanya menurut aja seolah pasrah mau diapa2in…….
Dicky hanya tersenyum puas melihat mama, sedangkan aku tersenyum kagum melihat mereka
Sesudah puas aku pun berdiri lalu mengambil tas rasnselku
“ya udah aku tinggalin kalian berdua, toko udah ditutup kalian bisa bebas gituan” kataku

Setelah keluar kamar tak lama kemudian dengan suara motorku lalu pergi… dicky pun kedepan untuk memastikan nya
sambil mengecek seluruh pintu…..
pada saat dicky kembali ke kamar mama aku mulai merasa ragu lagi…. tapi mengingat apa yang udah terjadi tadi danjuga aku yang udah pergi dicky pun memberanikan diri… saat didepan pintu kamar dicky melihat mama yang masih telanjang kedua pahanya pun masih terkangkang membuatnya semakin berani
dengan perasaan yakin dia pun mulai dengan berani meremas dada mama
jari tangannya yang satu lagi pun tak mau kalah langsung menekan ke arah vaginanya
mama masih diam aja….. dia sudah tak peduli lagi vaginanya pun dia kocok menggunakan 2 jari sekalaigus seperti yang dilakukan tadi

dampaknya pun mulai terasa.. mama yang awalnya hanya menutup wjahnya mulai berani memperlihatkan ekspresinya
Dickypun mulai lebih berani memainkan jariku… jari kiriku membuka2 libianya sedang jari kanan mengocok kedalam
dan benar tak lama kemudian
“akhhhh….. akhhh!!!!” kata pertama yang keluar
Dicky pun mengeluarkan penisnya lewat resleting celananya sambil dia kocok2 sendiri penisnya
mama ternyata menikmati rabaanya, dia sendiri udah tak tahan lagi.. diapun lekas melepaskan celananya
lalu bertanya kepada mama
“ tan… aku boleh masuk?” mama masih diam
lalu penisnya dia gesek2kan ke puting susunya sambil bertanya lagi…..
mama membuka matanya lalu memandangnya sebentar kemudian menganggukan kepalaanya menandakan setuju
denagn tak sabar langsung naik ke atas ranjang… tanpa dia suruh mama mbuka pahanya lebar sehingga dia bisa merapatkan tubuhnya
“akhhh” suara mama keras ketika penisnya kutusuk pertama kali ke vaginanya
oh gilaaaa, apakah ini yang dinamakan bersetubuh itu…. sangattt nikmat dia rasakan
penisnya terasa hangat dan seperti tersedot kedalam vagina mama. Pokoknya berbeda sekali rasanya dengan onani
Dicky terus menerus menekan dan menarik dengan cepat pantatnya ini menimbulkan perasaan nikmat tiada tara. semakin dia tusuk semakin keras penisnya dan semakin enak kurasa
“emhhhh…. ahhhhh… ahhhh…. ahhh” mama medesah sesekali sambil menutup rapat kedua matanya seakan menikmati tiap detik ketika penisnya keluar masuk
baru 5 menit tiba2 saja tubuhnya tegang sekali dan…. spermanya pun lepas masuk dengan sangat deras kedalam vagina mama, oh nikmatnya..
Dicky biarkan penisnya didalam sejenak, dia lemas, kdua lututnya teras ngilu sekali.. inilah pertama kalinya dia merasakan sensasi senikmat itu yang mungkin takan pernah dia lupakan….
baru semenenit didalam penisnya mulai membesar lagi, langsuang saja dia pun menggerakan pantatnya maju dan mundur meskipun tak sekencang saat yang pertama tapi rasa nikmat yang datang tak kalah hebat dengan yang tadi….
Dicky gerakan perlahan-lahan sambil kedua tangannya mengelus paha mama dan dia nikmati setiap detik dengan memejamkan matanya
“ahhh ahhh ahhh”tak kuasa dia bendung suaranya
penisnya menegang keras lagi..
“emhh… emhhh” suara mama seolah tak mau kalah dengan suaranya
30 menit berlalu dicky udah keluar didalm sebanyak 3 kali lalu diacabut penisnya..dengan sedikit tenaga yang tersisa dicky meninggalkan mama telanjang bugil dikamarnya sedang dia menuju ruang makan.. rasa cape, lapar membuatnya tak berdaya.. sehabis makan dicky pun kekamarku, aku pulang dan sempat lewat kamar mama dan kulihat dari luar mama sedang tidur dengan selimut yang menutupi bagian bawahnya sedangkan bagian dadanya dibiarkan terbuka wajahnya masih manis dan tetap terlihat anggun meskipun sehabis begituan…. saat melihat wajah mama aku merasa bersalah dengan apa yang baru kulakukan, ini adalah dosa terberat yang aku lakukan terhadap keluargaku sendiri
rasa kenyang dan cape membuat Dicky tidur terlelap hingga dia bangun pada sore harinya
entah mengpa aku dan mama tak saling bicara hari itu mungkin karena rasa bersalah yang sama2 kami berdua rasakan…
sehabis makan malam akupun langsung menuju kamar.. dikamar aku masih saja teringat akan kejadian siang tadi..
aku merasa sedih dan bersalah hingga tanpa kusadari air mataku menetes
wajah yang kuingat saat itu adalah wajah papa…
apa yang akan papa lakukan jika dia tau aku bukannya menjaga mama tetapi malah mengizinkan dicky menjadi suami kedua mama, wanita yang mengandung aku selama 9bulan dan melahirkan aku dengan susah payah
ketika papa membanting tulang dan mencari nafkah agar aku bisa sekolah yang tinggi untuk menggapai masa depanku…….. kalau papa tau mungkin dia akan membunuhku saat itu juga….
“ah.. siallll kenapa aku jadi begini”

keesokan harinya aku berangkat lebih awal kesekolah dengan bus, di sekolah aku bertemu dengan Dicky
“sob, gimana mamamu kemaren?” kata dia mengagetkan aku yang sedang melamun di kelas
aku tak menjawab apa2 hanya ekspresi malu dan kaget yang terlihat dari wajahku
“kok lemas gitu? wah abis kerja keras seharian ya?” katanya lagi
“mamaku puas kok”kataku dengan malu
“oh ya? masa? wah seru tuh…. Mamamu mau lagi gak? klo mau, ntar aku yang rayu lagi, kami yang gituan lagi seperti kemaren?” katanya dengan berbisik sambil tersenyum penuh maksud

aku merasa aneh kala itu. meskipun kutolak tapi Dicky tetap aja mengiming-imingi aku dengan kata2 yang menarik, lama kelamaan aku pun mulai tergoda lagi demi kebahagiaan dan akhirnya akupun menyerah dengan nafsu mudanya….
saat jam pelajaran pun Dicky pindah ke mejaku dan kami bercerita tentang mama.. meskipun saat kutanyai dia ngotot tak mengaku bahwa pernah meniduri mama sebelumnya.. sampai aku menyerah senidi.
Tak apala, mungkin dia malu atau takut jika aku marah
akhirnya setelah berembug lama kami pun memutuskan membolos saat instirahat dan langsung menuju rumahku
sesampai dirumah aku kamipun langsung menuju ruang tamu.. mama sedang ditoko..
Dicky langsung menuju toko dan langsung menggandeng mama keruang tamu saat itu….. mama hanya nurut sesekali ketika dibawa keruang tamu

sesampainya diruang tamu Dicky langsung memeluk mama dan mencium bibirnya seskali tangannya meraba selangkangan mama…. Wajah mama memerah apalagi ketika mengtahui aku yang duduk sedang menyaksikan mama dicium mesra.. dan terlihat mama sangat gugup saat itu
“sob, tokonya ditutup aja biar kalian bebas ngapa2in” kataku sambil memberi kode kepada dicky . dengan langkah yang agak terseret2 aku bergegas menuju toko dan menutup pintu toko, ketika aku kembali ke ruang tamu kulihat mereka berdua sudah duduk di sofa panjang sambli berciuman dan tangam milik Dicky udah masuk kedalam kaos milik mama dan meremas2 payudaranya….. penisku langsung tegang saat melihat mama diraba2 oleh Dicky… aku begitu tegang melihat mereka jadi aku berinisiatif menuju kamar dan mengganti pakaianku agar aku bisa lebih tenang…. setelah mengganti pakaianku aku langsung menuju ke ruang tamu..
saat itu mama udah tak mengenakan kaos sehingga payudaranya terlihat jelas begitu indah, paduan kedua puting coklatnya seolah membuat payudara mama terlihat begitu sexy….
ketika menyadari aku yang sudah ada di depan mereka Dicky menghentikan cumbuan terhadap mama, mama sendiri Cuma diam sesekali menunduk sambil membenahi ujung rambutnya yang basah oleh keringat…
“sob, aku mau keluar bentar nih, kmu aja ya yang lanjutin” katanku
“kenapa buru2? lanjut lihat aja.. aku gak terganggu kok, suer!!!!!” katanya sedikit heran dengan tingkahku
“aku agak kecapeaan hari ini, pengen cari udara dikit aja” kataku lagi sambil mengambil tas lalu mengambil helm dan kunci motor diatas meja…
Dicky agak heran dengan tingkahku hari ini, mama pun sama terlihat dari ekspresi wajahnya yang mulai bingung..
Dickypun langsung mengantarku kedepan rumah, dia tawari aku sekali lagi untuk masuk kedalam, tapi aku menolak.. heran juaga dia dengan tingkahnku.. tapi tak apa, mungkin ini juga bagus untuku, agar mereka bebas seperti kemarin…hahaha
Setelah aku pergi dicky pun masuk kembali kerumah, dia duduk disamping mama yang masih telanjang dada saat itu dan mulai saat itu dicky juga memanggil mamaku untuk sebutan sebagai istrinya….
“mah, pintu belakang udah dikunci?” tanyanya
“oh iya…!!! tunggu bentar, biar mama cek dulu”katanya sambil berjalan cepat menuju kebelakang….
setelah kembali dari belakang
“mah sini, duduk dipangkuanku” kata dicky dengan sedikit menarik tangannya, mama sedikit senyum lalu segera duduk menghadap dia dipangkuannya…. segera tangan kirinya menarik pinggangnya sehingga membuat tubuh mama lengket dengan tubuhnya..
langsung segera dicky cium leher mama dan tangan kanannya meremas2 bokong mama yang masih tertutup celana kolor ketat berwarna merah itu…
“emmhhh” katanya begitu dicky cupang lehernya lalu berlanjut menciumi ketiaknya yang berbulu tipis lalu naik ke pipi
sampai akhirnya bibir mereka bertemu…. lidah dicky langsung disedot oleh mama dengan rakus..
kdua tangan mama memeluk kepalanya dan mengelus rambutnya selagi bibir mereka saling sedot menyedot
“clkkk clkkk’ suara lidah bercampur air liur ketika mereka bercumbu
“mah lepasin celanya, aku pengen liat ituhnya” kata dicky, dengan tersenyum manja mama berdiri dan langsung melorotkan celana kolor beseral celana dalam turun dan lepas dari kakinya….
wowww… pemandangan indah dan harum semerbak langsung tercium dari hidungnya… tanpa menunggu lama mama pun langsung dia dorong kesofa dengan posisi terlentang, dia hujani wajahnya dengan ciuman tanpa henti mama hanya memeluk dicky sambil bibirnya ikut mencari2 dimana bibirnya meskipun akhirnya bertemu….
tangan kiri dicky meremas kedua susunya dari kiri kekanan bergantian terus menerus hingga nafas mama mulai tak beraturan..
tangan kanannya turun kebawah pusarnya dan mencari cari dimana vagina mama, setelah dapat langsung lah dia raba dan dia elus, sesekali dia tarik bulunya, ini membuat mama menjadi kesetanan dan semakin memeluknya dengan erat
mama saat itu sungguh berbeda dengan yang kemarin yang hanya diam saat dicky raba – raba…. setelah kurang lebih sepuluh menit mereka bercumbu dickykeluarkan penisnya lewat lubang resleting dan segera dia tempelkan penisnya yang sudah tegang ke vagina mama sambil dia gesek2kan ke klitorisnya…. ketika dicky mau masuk tiba2 mama memeluknya.. ini membuat penisnya meleset dan gak jadi masuk…
mama memeluknya sambil menciumi pipinya dia bilang
“sayang, maennya dikamar aja yuk, seperti kemaren… lebih enak”
segera mereka berdiri, dan sambil bergandengan mereka menuju kamar mama…..
setelah sampai dicky langsung menutup pintu kamar dan menguncinya sedang mama hanya duduk di tepi ranjang sambil menunggunya
“sayang lepas aja seragamnya, biar nanti gak kotor” kata mama
dengan cepat dicky melepas semua pakaian yang dia kenakan sampai kaos dalam pun hingga dia telanjang bulat.
mama hanya tersenyum nakal melihat penisnya yang tegang itu bergerak naik turun sendiri…..
mama langsung tiduran terlentang diatas ranjang, segeralah langsung dicky naiki tubuhnya lalu dia ciumi bibirnya, sedangkan penisnya kutekan2 kearah selangkangannya mencari lubang vaginanya … tapi karena Cuma bergesek2an dan tak masuk2 juga tubuh mama bergerak gerak sendiri seolah olah mencari juga dimana letak penisnya, sampai karena putus asa tangan mama menangkap penisnya lallu menekan kearah vaginanya… pelan pelan dan lalu…. sleebb…. penisnya pun tertancap diatekan sampai pangkal pahanya menempel dengan milik mama lalu dickybiarkan penisnya didalam sebentar..
ini membuat mama menjadi tambah liar, pantatnya bergerak2 sendiri dan vaginanya seperti menyedot dan menjepit keras penisnya
“sayangghh… cepet gerakkinn…. ahhhh… mama gak tahannn…kamu jahattt!!!” sambil menarik2 pantatnya
tak tega melihat mama yang tersiksa dicky pun langsung menekan naik turun
“ohh.. gitu sayangghhh… enakkk..” katanya sambil memejamkan matanya…
oh begitu nikmat saat itu ditambah lagi melihat ekspresi wajah manis mama yang sedang nafsu ingin disemprot rahimnya membuat dicky semakin tak tahan ingin keluar
20 menit kemudian
“mahh… aku keluarrr”katanya sambil menekan dalam2 penisnya
“AKHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” mama menjerit keras dan kurasa vaginanya berkontraksi dan menjepit penisnya dengan keras
“akhhh —akhhh—- ahhh!!!!” suaranya seolah tak mau berhenti… sepertinya dia juga abis orgasm sesaat setelah dicky keluarkan maninya didalam… penisnya dia tarik keluar dan dia lihat vagina mama membuka dan menutup sendiri sepereti sedang bernafas dan pinggulnya masih bergerak gerak kaku meski penisnya udah keluar, wow sungguh pemandangan yang indah tapi aneh…..

Lalu dia rebahkan tubuhnya disamping mama yang sedang lemas sambil mengambil nafas sejenak dan memandangi wajah mama yang penuh dengan bintik2 keringat….
Saat udah tenang mama memiringkan badan kearahnya, mereka berpandangan lama saat itu sebelum khirnya mama mencium kening dicky
“mama gak nyangka bisa tidur dengan kamu 2 kali”katanya dengan wajah masih lemas
“tapi mama bahagia sekarang” sambungnya
“suamimu gimana,mah?”kata Dicky… wajahnya agak sedi ketika dia tanyakan itu
“maaf mah”
“tak apa, kita jalani dulu aja…. jangan bialang suamiku, nanti dia marah”
“iya mah, aku janji jaga rahasia” katanya sambil tertunduk dan merasa seperti bersalah saat itu, mama yang melihatnya agak bersedih langsung merapatkan tubuhnya dan mengelus rambutnya
“mau mama isepin itunya ga?”katanya dengan tersenyum nakal.. Dicky pun langsung semangat lagi saat itu…….
Setelah melakukan 3 kali siang itu dicky dan mama tertidur pulas hingga sore hari.. Setelah bangun Dicky langsung menuju ruang makan dan ternyata mama masak banyak hari itu ada ikan,ayam, dan sayurannya banyak beraneka ragam jenis.. sepertinya dia sanngat senang hari itu……
malam itu dicky pun tidur di kamar mama, tapi mereka tidak “gituan” malam itu………
Akupun pulang menjelang malam setelah seharian mutar-mutar kota membiarkan mereka menikmati waktu mereka. Bangun pagi dicky merasa segar dan senang, setelah sarapan dicky langsung berangkat sekolah bersamaku.
tapi waktu istirahat siang aku tak bertemu Dicky disekolah, aku pikir dia kerumahku.. Tapi setelah pulang sekolah aku menemui dia dirumah.
Keesokan harinya pun begitu, Dicky menjeput aku tapi dia tak ke sekolahpun. aku mulai bingung saat itu
“apa dia sakit?” tanyaku pada mama setelah aku baru saja sampai kerumah dari sekolah
mama juga saat itu sambil duduk merapat ketubuhku
“mungkin dia tak bosan bosen sama ini” katamama sambil meraba payudara mama
“sayang, bosen ga sama mama”
“Ga akan bosen mah, walaupun tiap hari” kata dicky sambil mencium bibir mama
Akhirnya siang itu dicky memulai perkompian dengan mama…. Mereka melakukannya seharian penuh dikamar dan si ruang tamu
Keesokannya pun begitu, bahkan aku sudah gak tidur dikamarku tiap malam melainkan tidur di kamar mama karna kamarku sudah dianggap kamar pengantin mereka…
Seminggu kemudian…….
“sayang mama pengen ngomong” kata mama saat dicky mau mnidurinya malam itu
“ngomong apa mah?
“tapi jangan marah ya, sebenarnya………..emmmm mama udah hamil 3 minggu”
“HAH? kok bisa? mama kok gak bilang dari kemaren2 sih!!! Mama kok gitu, ini kan permasalahan genting” kataku dengan nada keras
“Sebenarnya yang nyuruh Dicky, dan anak ini sebenarnya anaknya Dicky dan mama gak bisa bilang kemaren2 karena mama takut kamu kasih tau papa”
SIALL SIALL oh sialnya aku, ternyata mama seserius ini sampai menerima benihnya dicky. Sekarang kami sudah kuliah dan mama sudah melahirkan 2 anaknya dicky dan masih ada yang dalam kandungan tanpa papa tau karna bila papa mau pulang di akhir pekan mama rutin tes kehamilan dan bila positif akan main dengan papa untuk tutupi perbuatan Dicky.

Kamis, 14 Juli 2022

Vagina Rapet Tetanggaku


Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu.

“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh… ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara Bu Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu tadi istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi.

“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.

“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tadi.

“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.

“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.

“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.

“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tadi.

“Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo”, kataku menggodanya.

“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.

Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu tadi harus aku dapatkan.

“Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.

“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.

“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.

“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.

“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi penasaran.

“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.

“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.

“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”

“Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.

“Awaas! hati-hati!” Bu Tadi menjerit kaget.

“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.

“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Tadi, aku Budi,” kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Budi,” kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Tadi. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.

“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.

Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen,” bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus,” bisik Bu Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus,” Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tadi, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”

“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.

“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.

“Emangnya Pak Tadi nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tadi sudah padam dari tadi. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tadi. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.

“Pak Tadi sedang kemana sih maa”, tanyaku.

“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.

“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.

“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Tadi memandangku.

“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.

“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.

“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.

“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”

“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.

“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.

“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.

“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.

“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Tadi.

Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tadi dengan penisku. Bu Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.

“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Tadi

“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,

“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa… ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tadi. Bu Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam.

Rumput Tetanga Memang Lebih Hijau


Seperti biasanya aku bangun pagi, namun hari itu aku sama sekali tidak bersemangat untuk bekerja. Pagi itu badanku terasa sangat pegal sekali, maklum saja aku bekerja sebagaikuli angkut dipelabuhan. Jadi aku bebas dan tidak terikat oleh perusahaan karena aku mendapat uang langsung dari orang yg membutuhkan tenagaku untuk mengangkut barang masuk kedalam kapal.

Pagiku itu aku pergi kewarung sebelah untuk membeli mie instant dan telur buat sarapan pagiku. Setelah membeli mie instant dan telur aku langsung pulang kerumah, namun sebelum memasak mie aku masuk kekamar untuk mengecas HP bututku yg kemarin belum sempat aku cas. Setelah kucolok kan pengecas ke HP bututku aku langsung kedapur untuk memasak mie.

Namun sial sekali, ternyata gas elpiji 3 kg ku habis. Mau beli kewarung namun sisa uang didalam dompetku hanya pas buat beli rokok sebungkus.

Waduh sialan, apes bener dah gue.. mana gas abis eh duit tinggal 10 ribu didompet.. Nasib bener dah gumamku dalam hati.

Untung saja aku melihat disamping rumahku ada istri tetanggaku yg sedang memasak, aku nekat minta tumpangan masak mie walau harus menanggung malu. Biasanya juga mereka bila ada perlu mereka pun sering meminta pertolonganku, dan mereka juga maklum dengan kehidupanku yg sebatang kara yg pekerjaannya tidak tetap yg tinggal disebuah pondok beratap daun.

Sudah genap 15 tahun aku ditinggal keluargaku, namun aku hanya bisa tetap tabah menjalani kehidupanku yg miskin, sedikit demi sedikit aku meraih penghasilan agar kehidupanku terus berjalan.

Tin, aku boleh gak numpang masak mie? Soalnya gas elpiji ku habis, mau beli lagi gak punya uang kataku kepada istri tetanggaku yg bernama Titin yg baru saja menikah dan belum genap setahun usia pernikahan mereka. Dan belum punya anak.

Ya boleh dong bang, tapi tunggu aku selesai ya, dikit lagi. Soalnya suami saya udah nunggu didalem mau berangkat kerja kata Titin

Oke.. kalo udah kasi tau ya, aku mau mandi dulu kataku meninggalkannya an pulang kerumahku.

Aku pun pergi kekamar mandi yg kumuh milikku dan aku langsung mandi didalamnya. Selesai mandi terdengar suara titin yg memanggilku pertanda ia sudah selesai memasak untuk suaminya. Setelah selesai berpakaian aku langsung pergi kedapur tetanggaku yg bersebelahan dengan dapurku.

Udah ya Tin masaknya? kataku

Udah bang, silahkan pake kompornya kata Titin

Tin, suamimu udah berangkat belum? tanyaku

Udah, barusan berangkat tuh bang katanya

Yah, telat aku, soalnya aku ada yg mau di omongkan dengan dia. Mau nanya kedia apa jadi atau gak berangkat kesumatera? kataku sambil memasak mie

Ya jadi tuh bang, tapi katanya aku disuruh jangan ikut. Soalnya kata dia gak lama. Cuma seminggu aja. Abang mau ikut ya? tanya Titin

Belum tau Tin, soalnya aku gak punya uang buat ongkos kataku

Nah, emangnya ada urusan apa sama suami saya? tanya Titin

Gak.. Cuma mau pinjem uang buat pergi kekampung, soalnya ini udah musim buah… aku mau beli buahnya langsung dari pohon terus aku mau jual kesini, ya ambil untung dikit aja lah kataku

Kalo gitu kekampung ku aja, disana juga lagi panen buah. Dikebun ayah Titin lagi panen durian, kalo mau ikut sama Titin aja pulang kekampung. Ntar ongkos jangan dipikirin. Abang gak perlu keluar modal, modal dari Titin dan abang yg tukang jual buahnya. Ntar untungnya kita bagi dua kata Titin

Ntar suami kamu gimana? Udah tau? kataku

Suami Titin ntar dikasi tau. Lagian dia juga suruh nyari orang buat jual buah hasil panen kebun ayah Titin katanya

Ya oke lah kalo gitu, ntar kalo mau pulang kampung kasi tau aja sama abang, mienya udah masak, abang makan dulu ya Tin. Makasih udah mau kasi tumpangan kompornya kataku

Ya udah, Titin juga mau mandi. Ntar Titin kasi tau kalo mau pulang sama abang katanya

Akupun langsung pulang dengan membawa semangkuk mie yg sudah kumasak tadi. Didapur langsung saja aku santap habis Mie ku dan selesai makan aku masuk kekamar dan membereskan kamarku dan menjalar sampai seisi rumah. Hari itu aku habiskan dengan beres-beres rumah, karena sudah lama sekali aku tidak membereskannya.

Beberapa hari kemudian Titin memanggilku…

Bang Jay, kesini bentar katanya dari jauh memanggilku didapur

Ya tunggu bentar kataku langsung menghampirinya

Ya ada apa Tin? kataku setelah sampai padanya

Bang, suami Titin udah kasi izin, kita berangkat setelah suami Titin berangkat katanya

Ya bagus lah, abang udah gak sabar neh, soalnya abang juga lagi perlu uang kataku

Buat apa bang? tanyanya

Ya buat bayar hutang dan keperluan sehari-hari, udah beberapa hari ini abang gak kerja kataku

Kalo gitu pake aja uang Titin dulu, nih ambil katanya sambil memberiku uang seratus ribu rupiah

Makasih Tin, ntar abang pasti ganti kataku

Ya udah bang, yg sabar aja… Oh ya, boleh minta tolong gak? Soalnya suami Titin udah pergi kerja. Titin gak kuat angkut air buat cuci pakaian katanya

Oh itu gampang Tin, mau berapa ember? tanyaku

Ya secukupnya aja lah bang, tuh ada ember, penuhin aja tong yg kosong itu. Titin mau ambil pakaian kotor dulu didalam katanya

Oke.. kataku sambil mengambil dua buah ember dan langsung pergi kesumur

Beberapa menit kemudian, Tong yg kosong itu sudah penuh semua terisi dengan air yg aku ambil disumur. Aku memperhatikan Titin yg sedang asyik menyikat baju, dan yg membuatku tidak mau pergi adalah saat aku melihat Titin yg sedang menyikat baju dengan posisi duduk mengangkang, Titin yg memakai Daster putih tipis yg hanya sebatas paha panjangnya dan sedikit basah dengan air sehingga tampak dimataku Titin tidak memakai BH dan memakai celana dalam putih.

Aku terkesima dengan pemandangan itu, namun Titin tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Kontan saja penisku berdiri tegak dan terasa sesak sekali di dalam celana jeans ku. Ingin sekali aku mendekap tubuhnya dalam pelukanku namun ia istri orang, aku harus bisa menahan rasa yg bergejolak ini, walau memang sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya tubuh wanita aku harus bisa menahan nafsuku.

Tin.. abang pulang dulu ya, udah penuh semua kan? kataku

Oh ya bang, makasih banyak ya katanya

Aku pun langsung pulang kerumahku, namun timbul pikiran isengku. Letak posisi duduk Titin berada tepat didepan lubang kecil dirumahku, langsung saja aku menuju kesana dan mengintip Titin yg sedang asyik mencuci pakaian dan tak pernah aku sadari hal ini.

Tampak jelas sekali selangkangannya yg masih tertutup celana dalamnya. Tak lama berselang, aku melihat Titin berdiri dan melepaskan celana dalamnya dan kemudian langsung dicuci nya sambil kembali duduk seperti semula. Aku semakin tidak tahan, akupun melepas celana ku dan ku keluarkan batang penisku yg semakin sesak bila tidak dikeluarkan.

Aaahhh yessss… aaaahhhhh desahku sambil mengocok penisku

Lama sekali aku mengintip Titin yg tidak bergerak dari posisi duduknya, memang cuciannya banyak sekali. Dan tidak terasa aku mencapai klimaks, aku semprotkan spermaku ke dinding sambil mengerang…

OOOhhhhhh yesssss aaaaahhhhhh desahku

Crrooottt… crrroootttt… croooottttt

Kumasukkan lagi penisku kedalam celana dan aku langsung menuju kekamar dan berbaring disana. Aku masih terus mengkhayal kan tubuh Titin, andai saja aku punya kamera barangkali sudah aku abadikan momen tsb. Rasa yg menggebu-gebu itu terus melandaku, seandainya ia sudah janda aku pasti berani mendekatinya.

Bang… Lagi ngapain? Kok itunya dibuka kata Titin yg memergokiku yg sedang berbaring dikamar yg tak kusadari penisku sedang berdiri tegak keluar dari dalam retsleting celanaku

Kontan saja aku dengan cepat berbalik badan untuk membetulkan posisi penisku dan kumasukkan lagi kedalam celanaku.

Astaga… kenapa bisa masuk kataku dalam hati

Bang… tolongin sekali lagi.. bak air kamar mandi Titin kosong, Titin mau mandi gak ada air kata Titin sambil mendekatiku dan duduk dibelakangku dikasur.

Aku membalikkan badanku dan kebetulan pas sekali wajahku menghadap payudara Titin yg tertutup daster. Aku sempat terdiam..

Titin tadi dengar suara abang waktu nyuci, Titin tau abang tadi ngintip Titin, ngaku aja katanya sambil mengusap wajahku

Eeehh… gaakk… kamu kenapa masuk kesini? Yaa.. udah, tungguin diluar abang ambilin airnya

Nanti aja… Titin masih mau disini katanya

Jangan… kamu ntar tetangga yg lain pada tau… kamu cepet keluar kataku

Titin pun beranjak dari ranjangku, namun ia tidak keluar malah ia mengunci pintu kamarku. Ia pun melepaskan dasternya dan terpampanglah semua tubuh Titin yg sudah tidak ada penutup lagi. Kedua payudaranya aku melihat sangat padat sekali dan aku lihat putingnya berwarna cokelat muda. Kemudian ia mendekatiku dan meraih retsleting celanaku dan dibukanya.

Sungguh aku tak berdaya diperlakukan seperti itu, lalu ia berdiri dan membisikkan ketelingaku…

Titin mau bang, bisa kan kasi Titin kehangatan? Udah lama Titin gak disentuh suami Titin katanya

Taa.. ta.. pi.. oohhh yeeaaahhhh desahku saat Titin mengulum penisku

Dengan lembut ia memperlakukan penisku, hingga buah zakarku pun dijilatnya, entah keberuntungan apa yg aku dapatkan hari ini sehingga orang yg baru saja aku khayalkan itu tiba-tiba datang masuk kekamarku..

Tak lama kemudian aku menahan kepalanya memberinya tanda bahwa menyuruhnya berhenti. Aku menarik tubuh Titin dan mendorongnya kekasur sehingga ia menjadi terlentang dikasur. Aku buka kedua kakinya dan pahanya dan langsung saja aku jilat kemaluannya. Kumasukkan jari tengahku kedalam lubang kemaluannya dan aku jilat klitorisnya dengan lidahku.

Aaawww… aaahhh Geeellliiii bang katanya

Lima menit aku memainkan lidahku menjilat kemaluannya, dan cairan nikmat Titin pun meleleh keluar dan langsung saja aku lumat. Aku pun berdiri dan memegang batang penisku dan ku lihat sudah memberikan lampu hijau dengan mengangkangkan kedua kakinya. Pelan tapi pasti dan ku hujamkan penisku masuk kedalam kemaluannya.

Arrghhh aaahhhh erangnya

Sungguh nikmat kemaluan Titin, sejenak aku diamkan dan terasa sekali berdenyut dikepala penisku seakan seperti di pijat dari dalam. Akupun menggoyangkan pantatku maju mundur menusuk kemaluan Titin, belum seberapa aku merasakan hangat sekali dikepala penisku seakan disembur cairan hangat. Ternyata Titin sedang orgasme.

Aaaarrghhh aaahhhh bang… aaahhhh desahnya menggelinjang hebat

Aku berhenti sejenak membiarkan Titin menikmati orgasmenya, setelah Titin tenang aku melanjutkan goyangan pantatku. Semula yg terasa lambat kini aku percepat, beberapa menit kemudian Titin mencengkram tanganku dan aku merasakan hangat lagi di kepala penisku. Titin orgasme kedua kalinya.

Arrrggghhhhh yeeeeaaaahhhhh bang… desahnya

Penisku semakin basah, aku merasakan sangat licin. Akupun mencabut penisku dan aku lap dengan celana dalamku penisku dan aku juga lap kemaluan Titin yg sudah banjir sampai kering. Setelah kering aku belum memasukkan penisku lagi kedalam kemaluan Titin, aku menyempatkan diri menyusui payudara Titin dan aku sedot putingnya.

Arrgghh bang, udah… sakit bang katanya

Akupun menghujamkan lagi kepala penisku dan masuk seluruhnya dan langsung saja aku goyang sekuat tenaga karena aku sudah tidak tahan, semakin cepat dan semakin keras suara Titin mengerang, sambil menggoyangkan pantat aku menutup mulut Titin agar suaranya tidak keluar.

Ssstt… diam Tin, ntar ada yg denger kataku

Akupun melanjutkan gerakkan ku memompa rahim Titin, perpaduan bunyi sentuhan pahaku dengan paha Titin menjadi sebuah irama dan akupun akhirnya mencapai klimaks kedua dan langsung saja aku menyemprotkan spermaku dirahimnya supaya ia bisa hamil dan dibalasnya dengan semprotan didalam kemaluannya..

Aaaaarrggghhhh… Tin… oohhhh yeeessss aaaahhhhhhh desahku

Hmmmbbbbb… aaaarrrggghhhhh aaaaahhhhh aahhhh aaaaaaahhhh desah titin

Crrroooottt… Crrottt… Crrroootttttt

Akupun terkulai lemas disamping Titin dan tanpa kusadari aku tertidur dalam keadaan telanjang. Pas aku bangung ternyata hari sudah mulai gelap dan aku lihat Titin sudah tidak ada disampingku. Langsung saja aku pergi mandi membersihkan semua kotoran yg melekat ditubuh akibat pergumulanku dengan Titin tadi siang.

Dua hari kemudian kamipun berangkat menuju terminal dengan membawa 2 buah Tas yg berisi pakaian. Didalam bis titin hanya diam saja dan akupun tidak mau mengganggunya. Akhirnya kami sampai di kampung halaman Titin semasa kecil. Disana aku dan Titin menginap dirumah ayah Titin yg sudah uzur. Dirumah itu hanya tinggal ayah dan adik Titin yg masih SMU.

Bang.. ke kebun yuk ajak Titin

Maen lagi ya.. mau kan? kataku

Titin mengangguk tanda setuju, dikebun aku menggumuli Titin, dikebun itu sangat sepi sekali, aku dan Titin bebas melakukan hubungan intim. Entah berapa kali aku melakukannya dengan Titin selama berada dikampung, dan aku juga tidak pernah menghitung berapa banyak cairan spermaku yg masuk kedalam rahim Titin.

Dan ketika pulang kekota aku sengaja setiap kesempatanmelakukannya dengan Titin karena aku ingin anak yg lahir kelak mirip denganku. Tak terasa bulan berlalu dan akhirnya Titin hamil. Suami Titin sangat girang melihat Titin hamil dan sering sekali suaminya bercerita denganku tentang kehamilan Titin. Aku sendiri tahu bahwa itu anakku.

Dan ketika bayi itu lahir ternyata mirip denganku tetapi lebih banyak mirip dengan Titin dan anak yg lahir itu adalah bayi perempuan. Aku menjadi lega karena hubunganku dengan Titin akan terus terjaga tanpa diketahui oleh suaminya hingga kami terus melakukanya sampai 5 anak kami lahir. Sekian cerita iniyg mungkin dalm bentuk pengunaan bahasa, ejaan ataupun penulisan ternyata ada kekurangan mohon di mengerti karena kurangnya pengalaman dalam pendidikan.




 

Asisten papa

Andre sarapan berdua saja dengan Mamanya di rumah. Biasanya acara sarapan hari minggu mereka lakukan bertiga bersama dengan papanya. Soalnya...